Pada tahap awal, Washington dan Tel Aviv menyatakan operasi tersebut sebagai langkah “preemptif” untuk menghadapi ancaman yang mereka klaim berasal dari program nuklir Iran.
Namun setelah operasi berlangsung, kedua negara kemudian secara terbuka mengisyaratkan bahwa mereka menginginkan perubahan kekuasaan di Iran.
Baca Juga:
Iran Tegas: Tak Ada Lagi Diplomasi dengan AS, Siap Perang Panjang
Dalam hari pertama operasi militer tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas terbunuh sehingga Republik Islam Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.
Sementara itu Presiden Rusia Vladimir Putin mengecam pembunuhan Khamenei dan menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional yang sinis.
Kementerian Luar Negeri Rusia juga mengutuk operasi militer Amerika Serikat dan Israel serta menyerukan deeskalasi segera dan penghentian permusuhan di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga:
Minyak Tembus 119 Dolar per Barel, AS Pertimbangkan Cabut Sanksi demi Redam Harga
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.