WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ambisi Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menguasai Greenland mendadak mengguncang Eropa dan memaksa negara-negara sekutu merapatkan barisan demi menghadang kemungkinan langkah sepihak Washington.
Kekhawatiran itu mencuat setelah ancaman penggunaan kekuatan militer Amerika Serikat terhadap Greenland disebut-sebut sebagai opsi nyata dalam perhitungan kebijakan Gedung Putih.
Baca Juga:
'Pulau Hijau' yang Dipenuhi Hamparan Salju, Inilah Asal-usul Nama Greenland
Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan kepada media Inggris bahwa Trump telah membahas beragam skenario untuk merebut Greenland, termasuk pengerahan militer, dengan dalih kepentingan keamanan nasional Amerika Serikat.
“Sedang dibahas berbagai opsi untuk mewujudkan tujuan kebijakan luar negeri yang penting ini oleh presiden dan timnya, dan tentu saja, penggunaan militer AS selalu menjadi pilihan yang tersedia bagi Panglima Tertinggi,” ujar pejabat Gedung Putih tersebut, dikutip Rabu (7/1/2025).
Pernyataan tersebut segera memicu reaksi keras dari Eropa karena dinilai berpotensi memicu konflik terbuka dengan Denmark yang merupakan sekutu Amerika Serikat dalam NATO.
Baca Juga:
Rencana Trump Kuasai Greenland Dapat Dukungan Warga Lokal, Ini Alasan Mereka
Beberapa jam setelah pernyataan itu mencuat, para pemimpin Eropa mengeluarkan sikap bersama yang secara tegas menyatakan dukungan penuh kepada Denmark sebagai pemilik sah Greenland.
Sebagai respons kolektif, enam negara anggota NATO di Eropa bersama Denmark menyampaikan pernyataan resmi untuk menolak klaim sepihak Amerika Serikat atas wilayah Arktik tersebut.
Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Polandia, Spanyol, dan Denmark menegaskan bahwa masa depan Greenland tidak dapat ditentukan melalui tekanan atau kekuatan militer dari negara mana pun.
“Greenland adalah milik rakyatnya, dan hanya Denmark dan Greenland yang dapat memutuskan hal-hal yang menyangkut hubungan mereka,” bunyi pernyataan bersama para pemimpin Eropa.
Di sisi lain, negara-negara Eropa menekankan bahwa mereka tetap sejalan dengan Amerika Serikat dalam menilai pentingnya stabilitas dan keamanan kawasan Arktik.
Para pemimpin Eropa menilai tantangan keamanan di wilayah Arktik harus dihadapi melalui kerja sama kolektif antarnegara NATO, bukan lewat ancaman militer sepihak yang berisiko merusak solidaritas aliansi.
Selain itu, mereka menyerukan penegasan kembali prinsip-prinsip Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, khususnya penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas teritorial.
Prinsip-prinsip tersebut, menurut para pemimpin Eropa, tidak dapat diganggu gugat oleh ambisi geopolitik atau kepentingan nasional negara mana pun.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]