WAHANANEWS.CO, Jakarta - Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman tarif dagang ratusan persen terhadap produk Prancis jika Presiden Emmanuel Macron benar-benar menolak undangan bergabung dalam Dewan Perdamaian Gaza yang diinisiasi Washington untuk mengakhiri konflik di wilayah tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Trump saat konferensi pers usai menghadiri kompetisi olahraga perguruan tinggi di Miami, Florida, Senin (19/1/2026), ketika ia dimintai tanggapan atas laporan yang menyebut Macron enggan bergabung dalam badan internasional tersebut.
Baca Juga:
Trump Patok Mahar Rp16,9 Triliun Bagi Peminat Kursi Dewan Perdamaian Gaza
"Apakah benar ia berkata demikian?" ujar Trump merespons pertanyaan wartawan terkait sikap Macron.
Trump kemudian menepis pentingnya penolakan itu dengan menyebut posisi politik Macron yang dinilainya tak lagi kuat menjelang akhir masa jabatan.
"Tapi, tidak ada yang menginginkan dia juga, karena dia akan mengakhiri masa jabatannya dalam waktu dekat," kata Presiden AS itu.
Baca Juga:
Ribuan Warga Mengamuk dan Protes Keras Rencana Trump: Greenland Tidak Dijual!
Dalam pernyataan lanjutan, Trump mengaitkan penolakan Macron dengan ancaman kebijakan dagang yang lebih keras terhadap Prancis.
"Jika laporan itu benar, saya mungkin akan menetapkan tarif 200 persen terhadap anggur dan sampanye Prancis, dan Macron akan bergabung," ucap Trump.
Ia kemudian menegaskan ancaman tarif tersebut bersifat kondisional dan bukan kewajiban.
"Namun, ia tidak harus bergabung," kata Trump menambahkan.
Media televisi Prancis, BFM, sebelumnya melaporkan bahwa Presiden Emmanuel Macron berencana menolak undangan Amerika Serikat untuk bergabung dalam Dewan Perdamaian Gaza.
Menurut sumber yang dikutip BFM, Macron menilai pembentukan dewan tersebut berpotensi melampaui mandat isu Gaza dan dapat melemahkan peran serta struktur Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Gedung Putih, melalui pernyataan resmi pada Jumat (16/1/2026), telah mengumumkan pembentukan Dewan Perdamaian Gaza sebagai instrumen utama pelaksanaan 20 poin rencana Trump untuk mengakhiri perang Israel di Gaza secara permanen.
Dewan tersebut juga dirancang untuk mengawasi transisi Gaza dari wilayah konflik menuju fase perdamaian dan pembangunan dengan melibatkan mobilisasi sumber daya internasional serta mekanisme akuntabilitas.
Selain itu, Amerika Serikat membentuk Komite Nasional untuk Administrasi Gaza guna menjalankan fase kedua dari Rencana Komprehensif Trump, disertai pembentukan Dewan Eksekutif pendiri dan Dewan Eksekutif Gaza.
Trump turut mengundang sejumlah kepala negara dan pemerintahan lain untuk bergabung dalam Dewan Perdamaian Gaza, termasuk Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]