Kondisi tersebut membuat pasar memandang sinyal terbaru Trump sebagai lampu hijau bagi investor untuk kembali melepas kepemilikan dolar AS.
“Banyak anggota kabinet Trump menginginkan dolar yang lebih lemah agar ekspor menjadi lebih kompetitif,” kata Kepala Ekonom Bank of Nassau, Win Thin.
Baca Juga:
Prediksi Rupiah Menguat Jelang Pertemuan Trump dan Xi Jinping
Sebagian pelemahan dolar juga dipicu oleh penguatan yen Jepang secara tiba-tiba sejak pekan lalu di tengah spekulasi potensi intervensi pemerintah Jepang untuk menopang mata uangnya.
Namun tekanan utama terhadap dolar berasal dari kebijakan Trump yang sulit diprediksi, mulai dari ancamannya mengambil alih Greenland, tekanan terhadap Federal Reserve, pemotongan pajak yang memperlebar defisit, hingga gaya kepemimpinan yang memperdalam polarisasi politik AS.
Pelemahan dolar ini terjadi meski imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat dan ekspektasi pasar bahwa The Fed akan menahan pemangkasan suku bunga pada pertemuan Rabu (28/1/2025), kondisi yang biasanya mendukung penguatan mata uang.
Baca Juga:
Polisi Ringkus Dukun Pengganda Uang di Kalibata, Dolar Palsu Dibuang ke Kloset
Trump sendiri terus menyuarakan keinginannya agar suku bunga ditekan lebih rendah, sebuah langkah yang berpotensi menambah tekanan terhadap dolar.
Situasi ini mendorong investor beralih ke aset lindung nilai seperti emas yang mencetak rekor tertinggi.
Arus dana juga mengalir deras ke aset pasar negara berkembang dengan kecepatan tertinggi dalam sejarah, seiring meningkatnya kecenderungan rotasi keluar dari aset berbasis Amerika Serikat yang oleh sebagian pelaku pasar disebut sebagai “penghentian diam-diam.”