"Kali ini, perang tidak akan terbatas pada wilayah kawasan saja," ancam Ebrahim yang mengindikasikan bahwa militer Iran siap memperluas jangkauan pertempuran hingga keluar dari wilayah Timur Tengah.
Eskalasi perang terbuka yang semakin tidak terkendali ini langsung menghantam pilar-pilar ekonomi internasional secara instan. Harga minyak mentah dunia dilaporkan langsung meroket tajam di mana minyak mentah Amerika Serikat melonjak hampir 2% ke posisi US$ 89,72 atau sekitar Rp 1,61 juta per barel dan minyak jenis Brent merangkak naik ke level US$ 92,74 atau sekitar Rp 1,66 juta per barel.
Baca Juga:
Trump Umumkan Update Baru Proposal Damai Perang AS-Iran: Di Titik Krusial
Kondisi sebaliknya justru melanda lantai bursa saham Amerika Serikat di mana indeks Dow Jones Industrial Average dilaporkan langsung rontok dan anjlok hingga lebih dari 600 poin sesaat setelah pernyataan Trump disiarkan ke publik. Namun Trump mencoba menenangkan pasar keuangan dengan mengklaim bahwa ini hanyalah sebuah operasi militer biasa yang akan segera berakhir.
"Ini adalah operasi militer. Ketika ini selesai, Anda akan melihat harga minyak turun kembali ke level semula," kilah Trump meyakinkan para pelaku ekonomi global.
Aksi saling hantam ini awalnya dipicu oleh keputusan Centcom yang membombardir wilayah pantai Iran sebagai respons atas jatuhnya helikopter serang jenis Apache milik Angkatan Darat Amerika Serikat di kawasan Selat Hormuz pada Selasa lalu. Pihak media negara Iran sendiri membantah adanya operasi militer ofensif di wilayah selat tersebut dalam 24 jam terakhir, sementara media lokal melaporkan bahwa militer Teheran juga sempat membalas dengan menargetkan kapal-kapal perang Amerika Serikat menggunakan kawanan drone dan rudal.
Baca Juga:
Ngeri! Dua Jet Tempur AS Tabrakan di Udara, Empat Pilot Lolos dari Maut
[Redaktur: Alpredo Gultom]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.