WAHANANEWS.CO, Jakarta - Pemimpin junta Myanmar, Min Aung Hlaing, terpilih sebagai presiden setelah dengan mudah memenangkan pemungutan suara parlemen.
Min Aung menjadi pemimpin Myanmar lima tahun setelah ia menggulingkan pemerintahan terpilih dalam kudeta.
Baca Juga:
Kudeta Militer Guncang Negara Bolivia, Apa yang Terjadi?
Jenderal berusia 69 tahun itu telah mengalami masa-masa sulit dalam kekuasaannya sejak ia menggulingkan pemerintahan Aung San Suu Kyi pada 2021 dan menahannya, memicu protes luas yang berubah menjadi perlawanan bersenjata nasional terhadap junta.
Anggota parlemen dari Partai Persatuan Solidaritas dan Pembangunan yang dominan memenangkan suara dengan selisih yang sangat besar.
Meskipun awalnya tertinggal dari Nyo Saw, seorang jenderal purnawirawan dan perdana menteri junta, Min Aung Hlaing mampu unggul dan memenangkan 429 suara berbanding 126 suara untuk Nyo Saw.
Baca Juga:
Soal Isu Khianati Gus Dur, Cak Imin Buka Suara
Naiknya Min Aung Hlaing ke kursi kepresidenan, sebuah posisi yang menurut para analis telah lama ia idam-idamkan.
Saat ia dinominasikan sebagai kandidat presiden, ia menunjuk Ye Win Oo, mantan kepala intelijen yang dianggap sebagai loyalis yang setia, sebagai penggantinya untuk memimpin militer.
Naiknya Min Aung Hlaing ke kursi kepresidenan dipandang oleh para analis sebagai upaya untuk mengkonsolidasikan kekuasaannya sebagai kepala pemerintahan sipil dan mencari legitimasi internasional, sambil melindungi kepentingan militer yang telah menjalankan negara secara langsung selama lima dari enam dekade terakhir.