Kebanyakan dari gereja tersebut
dikelola oleh Gereja Katolik yang mendorong PM Justin Trudueau mendesak
permintaan maaf dari Vatikan.
Berdasarkan catatan sejarah, aksi
penindasan dan kekerasan di sekolah-sekolah tersebut sudah terjadi selama 165
tahun.
Baca Juga:
Misi Dagang Kanada ke Indonesia, Kemendag RI Gelar Penjajakan Bisnis dan Seminar Ekspor
Penindasan terakhir terjadi di tahun
1996.
Seorang kru melakukan pencarian radar
penembus tanah di sebuah lapangan, di mana Cowessess
First Nation mengatakan mereka telah menemukan
751 kuburan massal tak bertanda, di dekat bekas Sekolah Perumahan Marieval
Indian di Grayson, Saskatchewan, Kanada, 18 Juni
2021.
Dalam praktiknya, sekolah memisahkan
paksa anak-anak pribumi dari orang tua mereka.
Baca Juga:
Perundingan Indonesia-Canada CEPA Masuki Putaran ke-10, Kedua Negara Optimistis Selesaikan Kesepakatan
Dan, selama berada di sekolah,
anak-anak tersebut dibiarkan kelaparan dan menjadi subjek kekerasan fisik
maupun seksual.
Komisi Rekonsiliasi dan Kebanaran di
Kanada, dalam laporannya, menyebut apa yang terjadi sebagai genosida budaya.
Kembali ke perobohan patung, aksi
tersebut dirayakan dengan meriah oleh pengunjuk rasa.