Menurut Salma, seluruh staf di tempat kerjanya merupakan warga keturunan Palestina, sedangkan hanya manajernya yang merupakan warga Yahudi Israel.
Ia juga menyebut beberapa pekerja yang memprotes larangan tersebut tidak lagi dijadwalkan bekerja selama dua bulan sebelum akhirnya ditawari pindah ke cabang lain yang lokasinya sulit dijangkau.
Baca Juga:
British Museum Bantah Hapus Istilah Palestina Meski Dituding Tertekan Lobi Pro-Israel
Kasus yang dialami Salma disebut menjadi salah satu dari sejumlah laporan serupa dalam beberapa bulan terakhir, dengan keluhan datang dari pekerja Palestina di berbagai sektor, mulai dari rumah sakit, apotek, hingga toko ritel.
Salah satu kasus terbaru melibatkan seorang pekerja Palestina di jaringan apotek Good Pharm di Jaffa, ketika media lokal mempublikasikan pesan WhatsApp dari seorang manajer yang diduga mengancam karyawan apabila berbicara menggunakan bahasa selain bahasa Ibrani.
Manajer tersebut berdalih penggunaan bahasa Arab dapat membuat pelanggan yang mengalami trauma akibat serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 merasa tidak nyaman.
Baca Juga:
PBB Temukan Bukti Baru, Israel Lakukan Genosida Sadis di Jalur Gaza
Warga keturunan Palestina di Israel merupakan penduduk asli Palestina yang tetap tinggal setelah sekitar 750.000 warga Palestina terusir dalam peristiwa Nakba pada 1948 yang mengiringi berdirinya negara Israel.
Saat ini, populasi warga keturunan Palestina di Israel diperkirakan mencapai sekitar dua juta jiwa atau sekitar 20 persen dari total penduduk negara tersebut.
Sejak konflik yang dipicu serangan Hamas pada Oktober 2023, komunitas Palestina di Israel dilaporkan semakin sering menghadapi penangkapan, sanksi disipliner, hingga kehilangan pekerjaan akibat ekspresi politik yang berkaitan dengan perang di Gaza.