Namun demikian, ia menilai bahwa keberhasilan implementasi teknologi ini juga sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur digital di seluruh fasilitas kesehatan.
"Yang menjadi persoalan selama ini dan banyak diprotes itu bukan kesiapan dari BPJS Kesehatan, tapi kesiapan rumah sakit mengantisipasi mengikuti perkembangan digitalisasi BPJS Kesehatan. Karena rumah sakit-rumah sakit sekarang belum semuanya mempunyai sistem informasi rumah sakit yang andal, sehingga mereka belum mampu mengikuti," katanya.
Baca Juga:
Sistem Rujukan JKN Berubah, BPJS Kesehatan Fokuskan Layanan Sesuai Kompetensi Faskes
Selain untuk pengawasan klaim, penerapan AI juga menjadi fondasi penting dalam pengelolaan big data pelayanan kesehatan.
Data dalam jumlah besar tersebut akan diolah secara sistematis guna mendukung perumusan kebijakan strategis BPJS Kesehatan di masa mendatang.
"Itu dasarnya 'decision making process based on big data'. Jadi 'big data' analitiknya itu, jadi proses pembuatan kebijakan berbasis data," kata Direktur Utama BPJS Kesehatan Ali Ghufron Mukti.
Baca Juga:
Kolaborasi BPJS Kesehatan dan BRIN Dorong Kebijakan JKN Berbasis Data
Sementara itu, Direktur Teknologi Informasi BPJS Kesehatan Edwin Aristiawan menyampaikan bahwa transformasi berbasis AI merupakan kelanjutan dari agenda besar digitalisasi layanan yang telah berjalan.
Penerapan teknologi ini diharapkan dapat memperkuat keberlanjutan sistem perlindungan kesehatan yang inklusif dan merata bagi seluruh masyarakat Indonesia.
"Produk pertama yang kita luncurkan pada pagi hari ini adalah SISCA JKN, singkatan dari Smart Integrated Solution Customer Assistant. Jadi AI ini adalah perwujudan dari Customer Representative Officer," kata Edwin Aristiawan.