WAHANANEWS.CO, Jakarta - Meningkatnya perhatian dunia terhadap kasus hantavirus yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius menjadi peringatan serius bahwa ancaman penyakit zoonosis masih nyata dan dapat muncul sewaktu-waktu.
Situasi tersebut mendorong berbagai negara meningkatkan kewaspadaan, termasuk Indonesia yang dinilai memiliki sejumlah faktor risiko penyebaran penyakit berbasis lingkungan dan hewan.
Baca Juga:
RI Tak Luput Serangan Hantavirus, Ini Jumlah Kasus dan Wilayah Sebaran
Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto meminta pemerintah bersama masyarakat memperkuat langkah antisipasi terhadap potensi penyebaran hantavirus di Tanah Air.
Menurutnya, kasus yang terjadi di luar negeri tidak boleh dipandang sebagai ancaman yang jauh dari Indonesia.
Kasus hantavirus terbaru menjadi sorotan internasional setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memantau wabah Andes virus di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Argentina.
Baca Juga:
IDAI Soroti Masa Inkubasi Panjang Hantavirus, Penularan Sulit Terdeteksi
Dalam kejadian tersebut, tiga orang dilaporkan meninggal dunia dan sejumlah penumpang lainnya masuk kategori suspect.
Dua warga Singapura yang sempat berada di kapal itu dinyatakan negatif setelah menjalani pemeriksaan kesehatan dan karantina ketat.
Meski demikian, WHO tetap melakukan pelacakan lintas negara karena Andes virus merupakan satu-satunya jenis hantavirus yang diketahui dapat menular antarmanusia.
“Peristiwa di kapal MV Hondius harus menjadi alarm bagi seluruh negara, termasuk Indonesia. Kita tidak boleh menganggap hantavirus sebagai ancaman jauh atau penyakit langka yang tidak relevan bagi Indonesia,” kata Edy melalui rilis yang diterima Parlementaria di Jakarta, Minggu (10/5/2026).
Menurut Edy, Indonesia justru memiliki tingkat kerentanan yang cukup tinggi terhadap penyebaran hantavirus.
Faktor seperti kepadatan penduduk, urbanisasi yang berlangsung cepat, persoalan sanitasi lingkungan, hingga tingginya populasi tikus di kawasan permukiman menjadi kondisi yang perlu diwaspadai.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan yang dikutip dari Detik Health, dalam tiga tahun terakhir tercatat sedikitnya 23 kasus hantavirus jenis Seoul Virus di Indonesia dengan manifestasi Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS).
Dari jumlah tersebut, 20 pasien dinyatakan sembuh, sementara tiga lainnya meninggal dunia dengan riwayat penyakit penyerta seperti kanker hati dan kegagalan multi organ.
“Ini menunjukkan bahwa hantavirus bukan sekadar ancaman teoritis. Virusnya sudah ada di Indonesia dan kasusnya nyata. Persoalannya, penyakit ini sering tidak terdeteksi karena gejalanya mirip demam berdarah, tifus, atau leptospirosis,” ujar Edy.
Ia menjelaskan, terdapat perbedaan antara Andes virus dengan Seoul Virus yang ditemukan di Indonesia.
Andes virus diketahui dapat memicu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yakni infeksi berat yang menyerang paru-paru dan menyebabkan gangguan pernapasan akut hingga gagal napas.
Virus ini memiliki tingkat fatalitas lebih tinggi dan menjadi satu-satunya jenis hantavirus yang sejauh ini diketahui bisa menular antar manusia.
Secara umum, hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia, terutama melalui tikus sebagai agen utama penyebaran virus.
Penularan biasanya terjadi ketika seseorang menghirup udara yang telah terkontaminasi partikel urin, feses, atau air liur tikus.
“Masih banyak masyarakat yang membersihkan gudang, rumah kosong, atau area yang penuh kotoran tikus tanpa perlindungan dapat menjadi jalur penularan. Ini yang harus diedukasi secara serius,” katanya.
Edy menilai ancaman hantavirus sering kali luput dari perhatian karena tidak selalu menimbulkan pandemi besar.
Padahal, beberapa jenis hantavirus memiliki tingkat kematian yang cukup tinggi, khususnya Andes virus yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan berat.
“Justru karena sifatnya silent threat, kita tidak boleh lengah. Dunia sudah belajar dari pandemi bahwa ancaman kesehatan sering datang dari hal-hal yang awalnya dianggap kecil,” kata Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu.
WHO sendiri telah mengingatkan kemungkinan munculnya kasus tambahan terkait wabah di MV Hondius karena masa inkubasi virus dapat berlangsung lebih dari dua minggu.
Sejumlah negara pun mulai memperketat pemantauan terhadap penumpang yang sempat berada di kapal tersebut.
Legislator dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah III itu juga mendorong pemerintah memperkuat sistem kewaspadaan dini terhadap penyakit zoonosis, termasuk hantavirus, melalui pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
Ia menilai terdapat beberapa langkah penting yang perlu segera diperkuat. Pertama, memperluas surveilans terhadap penyakit demam akut yang belum terdiagnosis agar kasus hantavirus tidak luput dari pemantauan.
Kedua, meningkatkan kapasitas diagnosis laboratorium, termasuk pemeriksaan PCR dan serologi di rumah sakit rujukan.
Selain itu, Edy juga menekankan pentingnya pengendalian rodensia dan perbaikan sanitasi lingkungan berbasis masyarakat.
Menurutnya, pengelolaan sampah, kebersihan permukiman, hingga pengendalian populasi tikus harus menjadi bagian penting dari kebijakan kesehatan publik nasional.
“Pencegahan hantavirus tidak cukup hanya mengandalkan layanan rumah sakit. Ini menyangkut lingkungan hidup sehari-hari masyarakat,” ujarnya.
Di sisi lain, ia meminta edukasi publik diperluas agar masyarakat memahami langkah-langkah sederhana untuk mencegah penularan, seperti menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang terindikasi banyak tikus, menjaga ventilasi ruangan, serta menghindari kontak langsung dengan tikus.
Edy juga menegaskan pentingnya koordinasi lintas sektor karena ancaman zoonosis sangat berkaitan dengan perubahan lingkungan, urbanisasi, hingga dampak perubahan iklim yang semakin kompleks.
“Kita tidak boleh menunggu sampai terjadi lonjakan kasus besar baru kemudian bergerak. Pencegahan jauh lebih murah dan jauh lebih penting dibandingkan penanganan ketika situasi sudah memburuk,” tandas Edy.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]