“Empat penyakit menular utama belum memiliki vaksin produksi Indonesia. Vaksin malaria dan dengue sudah tersedia, tetapi masih diproduksi negara lain,” ujar Menkes.
Ia menambahkan, pemerintah akan memprioritaskan pengembangan vaksin untuk penyakit dengan angka kejadian dan tingkat kematian yang tinggi.
Baca Juga:
Tudingan Normalisasi LGBT di UI oleh Ormas: Pihak Kampus Tegaskan Hanya Kajian Akademik
Selain mendukung pengendalian penyakit, langkah tersebut juga mempertimbangkan efektivitas program imunisasi nasional agar jumlah suntikan yang diterima masyarakat, khususnya anak-anak, tidak terlalu banyak.
“Kalau kebanyakan disuntik, ibu-ibu juga merasa tidak nyaman kalau anaknya kebanyakan disuntik. Jadi kita akan pilih vaksin-vaksin baru yang disuntikkan adalah vaksin-vaksin yang paling banyak insiden dan kematian,” ucap Menkes Budi.
Lebih lanjut, Budi mengapresiasi dukungan berbagai kementerian dan lembaga yang terlibat dalam pengembangan vaksin dengue berbasis mRNA.
Baca Juga:
20 Kampus Terbaik Indonesia Versi QS WUR 2027, UI Masih Tak Tergoyahkan
Sinergi tersebut dinilai menjadi faktor penting untuk mempercepat proses riset, inovasi, hingga produksi vaksin di dalam negeri.
Kolaborasi itu melibatkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) sebagai pendukung pembiayaan riset.
“Saya mengapresiasi dukungan Kemdiktisaintek, BRIN, dan LPDP dalam pengembangan vaksin ini. Kolaborasi tersebut penting mempercepat riset, inovasi, hingga produksi vaksin nasional,” kata Budi.