Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie mengungkapkan bahwa kerja sama penelitian vaksin dengue antara Indonesia dan Tiongkok sebenarnya telah dimulai sejak 2023.
Saat itu, ia masih berstatus sebagai profesor di Tsinghua University dan turut terlibat dalam perintisan kolaborasi riset tersebut.
Baca Juga:
Tudingan Normalisasi LGBT di UI oleh Ormas: Pihak Kampus Tegaskan Hanya Kajian Akademik
“Waktu itu memang ada anggaran dari Ministry of Science and Technology untuk memulainya. Sehingga waktu itu kita memetakan kebutuhan Indonesia dan kemampuan China untuk mensupport,” kata Stella.
Stella menjelaskan, kemitraan yang dibangun sejak awal tidak hanya berfokus pada penelitian, tetapi juga diarahkan agar hasil riset dapat berlanjut hingga tahap hilirisasi dan produksi di Indonesia.
Menurutnya, keterlibatan PT Etana menjadi salah satu faktor penting dalam menjembatani proses tersebut sehingga inovasi yang dihasilkan tidak berhenti di laboratorium.
Baca Juga:
20 Kampus Terbaik Indonesia Versi QS WUR 2027, UI Masih Tak Tergoyahkan
Ia menilai pola kolaborasi yang langsung diwujudkan melalui kerja nyata merupakan model kerja sama yang efektif dalam mempercepat pengembangan teknologi kesehatan dan industri vaksin nasional.
“Kalau tadi pertanyaannya ke depan kita akan bagaimana, inilah model yang paling bagus. Jadi tidak tanda tangan MoU dulu, tapi justru bekerja sama dahulu, sungguh-sungguh,” ujar Stella.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.