Menurut Kusuma, tenaga akademik dan medis dari FKUI serta RSCM kemudian ikut berkontribusi dalam memberikan pelayanan sekaligus membangun kapasitas RSUI.
Kusuma menegaskan bahwa fungsi pendidikan dan pelayanan tidak dapat berjalan sendiri-sendiri.
“Pendidikan dan pelayanan, dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan,” ujar Kusuma.
Baca Juga:
Klinik Reproduksi RSUI Resmi Dibuka: Layani Pasangan dengan Program Kehamilan Terintegrasi
Perkembangan pelayanan kemudian semakin terlihat setelah RSUI menjalin kerja sama dengan BPJS Kesehatan dan menjalani proses akreditasi. Langkah tersebut membuka akses lebih luas bagi masyarakat untuk mendapatkan pelayanan di RSUI.
“Kami bekerja sama dengan BPJS, kami melakukan akreditasi sehingga mulailah pasien datang ke sini,” katanya.
Pandemi Covid-19 Jadi Titik Penting
Baca Juga:
RSUI Strategi Besar: Luncurkan Center of Excellence dengan Layanan Kesehatan Level Unggulan
Perjalanan RSUI memasuki fase penting ketika pandemi Covid-19 melanda. Rumah sakit yang berada di lingkungan Universitas Indonesia itu kemudian menjadi salah satu fasilitas yang berperan dalam penanganan pasien Covid-19.
Kusuma menyebut kondisi lokasi RSUI yang relatif terisolasi dari kawasan luar kampus serta dukungan tenaga medis menjadi salah satu faktor yang membuat rumah sakit tersebut banyak dipilih masyarakat pada masa pandemi.
“Waktu di era Covid-19, RSUI menjadi rumah sakit rujukan nasional. Dengan tempat tidur waktu itu hampir 200 dan dokter-dokter yang masih muda, ini membuat RSUI dicari orang,” sebut Kusuma.