Menurut Adhyaksa, kritik terhadap pemerintah tetap boleh dilakukan, tetapi harus menjaga etika, pilihan kata, dan penghormatan terhadap simbol kepala negara.
Ia mengaku awalnya sempat menaruh simpati kepada Tiyo yang dikenal vokal mengkritik sejumlah kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Baca Juga:
Approval Rating Prabowo Turun Signifikan, SMRC Kaitkan dengan Kondisi Ekonomi dan Politik
“Kasihan kamu, pada mulanya saya simpati. Kritik pemerintah ok, kita meng-kita-kan jangan meng-kau-kan ok. Tapi ini sudah kelewatan kamu menghina kepala daerah,” kata Adhyaksa.
Tiyo belakangan menjadi sorotan karena kerap menyampaikan kritik tajam terhadap pemerintah, mulai dari program Makan Bergizi Gratis, nilai tukar rupiah, hingga harga bahan bakar minyak.
Adhyaksa kemudian membuat perumpamaan personal untuk menggambarkan bagaimana perasaan keluarga seseorang jika mendapat perlakuan atau ucapan serupa.
Baca Juga:
KAI Kecam Ucapan Kasar Advokat ke Wartawan, Kak Mia: Officium Nobile Wajib Jaga Etika
“Coba kalau bapakmu digitukan sama orang sakit hati gak kamu ? sakit hati gak bapakmu ? Jangan, pak Prabowo tuh orang tua, senior, seumuran dengan bapak saya barangkali,” katanya.
Adhyaksa juga menyampaikan bahwa kemarahannya bukan karena dorongan pihak lain, melainkan muncul dari sikap pribadi setelah melihat pernyataan Tiyo.
“Dari suara hati saya sendiri,” kata Adhyaksa.