WahanaNews.co, Jakarta - Wakil Ketua Umum Bidang Strategis Dewan Pimpinan Nasional Bintang Muda Indonesia (DPN BMI) Partai Demokrat, Arnod Sihite, menilai tantangan hilangnya sejumlah jenis pekerjaan akibat perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) harus dijawab dengan penciptaan lapangan kerja baru yang produktif dan berkelanjutan.
Arnod mendorong Danantara agar semakin diarahkan menjadi instrumen strategis pembangunan infrastruktur sekaligus mesin penciptaan lapangan kerja. Menurutnya, investasi yang dikelola Danantara tidak cukup hanya diukur dari nilai investasi dan keuntungan finansial, tetapi juga dari dampaknya terhadap perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.
Baca Juga:
Konflik Timur Tengah dan Ujian Politik Luar Negeri Indonesia
Pernyataan tersebut disampaikan Arnod merespons pernyataan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengenai perubahan besar di pasar kerja akibat perkembangan teknologi dan artificial intelligence (AI).
Saat memberikan kuliah umum pada Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PPKMB) Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ) di Tennis Indoor Stadium Senayan, Jakarta, Senin (10/8/2026), AHY menyebut akan ada 170 juta pekerjaan baru yang hadir berkat teknologi dan AI. Namun, pada saat yang sama, sekitar 92 juta pekerjaan diperkirakan hilang karena tidak lagi relevan.
"170 juta pekerjaan baru hadir akibat artificial intelligence dan berbagai kemajuan teknologi dewasa ini. 92 juta pekerjaan akan hilang, tidak lagi relevan, usang, obsolete, dan ini harus kita waspadai," ujar AHY.
Baca Juga:
Toga Sihite Sedunia dapat Apresiasi di Munas VIII FSP PPMI SPSI, Soroti Keberlangsungan Dunia Usaha dan Lapangan Kerja
Arnod Sihite yang juga Ketua umum Federasi serikat pekerja percetakan dan penerbitan media Informasi serikat Pekerja seluruh Indonesia (FSP PPMI SPSI) yang baru terpilih kembali periode 2026-2031 menilai perubahan struktur pekerjaan tersebut harus diantisipasi melalui kebijakan investasi yang mampu menciptakan efek berganda bagi masyarakat. Salah satu instrumen yang dinilai strategis adalah Danantara, yang dapat diarahkan lebih kuat untuk membiayai pembangunan infrastruktur produktif.
Ket foto: Arnod Sihite, Ketua Umum FSP PPMI SPSI dalam Munas VIII di Solo, Jawa Tengah pada 1-2 Agustus 2026 yang dihadiri Menteri Ketenagakerjaan RI, Prof. Yassierli, sekaligus membuka acara, hadir juga Penasihat Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal, Wakil Menteri Ketenagakerjaan Adriansyah Noor, Wali Kota Solo Respati Ardi, serta perwakilan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Komunikasi dan Digital, Kementerian Hak Asasi Manusia, BPJS Ketenagakerjaan, dan BPJS Kesehatan. [WahanaNews.co/Ist]
“Investasi strategis jangan hanya dilihat dari besarnya nilai investasi atau keuntungan finansial. Ukuran keberhasilannya juga harus terlihat dari seberapa besar investasi tersebut mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan menggerakkan ekonomi nasional,” kata Arnod, Kamis (13/08/2026) di Jakarta.