Menurut Arnod aktivis buruh yang juga anggota lembaga Tripartit Nasional, pembangunan infrastruktur memiliki efek berantai yang besar terhadap perekonomian. Pembangunan energi, transportasi, kawasan industri, air, hingga konektivitas digital tidak hanya membutuhkan tenaga kerja selama proses pembangunan, tetapi juga membuka peluang usaha baru setelah infrastruktur tersebut beroperasi.
Karena itu, investasi Danantara dinilai perlu diarahkan pada sektor-sektor yang mampu menciptakan multiplier effect, mulai dari pembangunan infrastruktur, peningkatan aktivitas industri, pertumbuhan UMKM, hingga terbentuknya rantai pasok baru di berbagai daerah.
Baca Juga:
Konflik Timur Tengah dan Ujian Politik Luar Negeri Indonesia
Langkah Danantara yang menggarap 26 proyek hilirisasi strategis nasional senilai Rp225 triliun juga dinilai menunjukkan bahwa investasi strategis dapat diarahkan untuk menciptakan lapangan kerja sekaligus meningkatkan aktivitas ekonomi. Program tersebut diproyeksikan menyerap 37.833 tenaga kerja.
Fase pertama proyek tersebut mencakup enam proyek prioritas di 13 lokasi dengan nilai investasi Rp109 triliun dan potensi penyerapan 11.456 tenaga kerja. Sementara fase kedua mencakup 10 proyek prioritas di 13 lokasi dengan investasi Rp116 triliun dan proyeksi penyerapan 26.377 tenaga kerja.
Selain mewakili serikat buruh, Arnod Sihite yang juga Ketua Umum Toga Sihite sedunia, mrnilai capaian tersebut menunjukkan bahwa investasi strategis dapat sekaligus menjadi instrumen penciptaan lapangan kerja. Karena itu, ke depan, investasi Danantara dinilai perlu semakin diarahkan pada proyek-proyek yang memiliki dampak nyata terhadap masyarakat.
Baca Juga:
Toga Sihite Sedunia dapat Apresiasi di Munas VIII FSP PPMI SPSI, Soroti Keberlangsungan Dunia Usaha dan Lapangan Kerja
“Yang dibutuhkan bukan sekadar pertumbuhan angka investasi, tetapi investasi yang terasa manfaatnya bagi rakyat. Infrastruktur harus membuka akses, industri harus menciptakan pekerjaan, dan pertumbuhan ekonomi harus meningkatkan kesejahteraan pekerja,” ujar Arnod Wakil Ketua Umum Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI).
Arnod juga menilai pesan AHY mengenai potensi perubahan pasar kerja akibat AI harus menjadi perhatian serius pemerintah, dunia pendidikan, dunia usaha, dan pekerja. Pekerjaan yang hilang akibat otomatisasi tidak cukup hanya dihadapi dengan mempertahankan pekerjaan lama, tetapi harus diimbangi dengan penciptaan pekerjaan baru serta peningkatan keterampilan tenaga kerja.
Dalam konteks tersebut, pembangunan infrastruktur dan hilirisasi dapat menjadi jembatan antara investasi, kebutuhan tenaga kerja, dan transformasi ekonomi. Proyek-proyek strategis yang menggunakan tenaga kerja dalam negeri, melibatkan pemasok lokal, serta mendorong tumbuhnya industri pendukung akan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.