BMKG menyampaikan, meningkatnya dampak musim kemarau juga terlihat dari sejumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat, Aceh, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Bahkan, sebaran asap dari Kalimantan Barat diperkirakan berpotensi melintasi perbatasan menuju Sarawak, Malaysia.
Meski demikian, hujan lebat masih tercatat di sejumlah wilayah pada periode 30 Juli-2 Agustus 2026, yakni Aceh 164,3 mm/hari, Sumatra Utara 144 mm/hari, Sumatra Barat 102,5 mm/hari, Kepulauan Riau 97 mm/hari, dan Kalimantan Utara 59 mm/hari. Kondisi tersebut dipengaruhi aktivitas Gelombang Kelvin, Gelombang Rossby Ekuatorial, serta anomali OLR negatif yang masih mendukung pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia bagian barat hingga tengah.
Baca Juga:
BMKG: Senin Sore Hingga Malam Jakarta Sebagian Bakal Diguyur Hujan Ringan
BMKG juga mencatat perkembangan iklim global masih mendukung berlanjutnya cuaca kering. Nilai indeks Nino 3,4 sebesar +2,45 dan Southern Oscillation Index (SOI) sebesar -29,2 mengindikasikan El Nino kuat masih berlangsung dan berpotensi menguat, sementara indeks Indian Ocean Dipole (IOD) sebesar +0,44 menunjukkan kecenderungan menuju fase positif. Kombinasi fenomena tersebut berkontribusi terhadap berkurangnya pembentukan awan hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.
BMKG mengimbau masyarakat tetap mengantisipasi dampak cuaca panas dan kondisi udara yang lebih kering dengan menjaga kecukupan cairan, menghemat penggunaan air, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kekeringan dan kebakaran hutan maupun lahan.
Di saat yang sama, masyarakat juga diminta tetap mewaspadai potensi hujan lokal yang dapat disertai kilat, petir, dan angin kencang, termasuk risiko pohon tumbang, baliho roboh, genangan, serta sambaran petir.
Baca Juga:
El Nino Tak Berarti Tanpa Hujan, BMKG Ungkap 9 Wilayah Berpotensi Diguyur Minggu Ini
Waspada Banjir Rob di Sejumlah Wilayah Pesisir Indonesia
Selain potensi hujan lebat, BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi banjir pesisir (rob) di sejumlah wilayah Indonesia pada Agustus 2026. Melansir unggahan Instagram resmi @bmkgmaritim dan @infobmkg, fenomena fase Bulan Perigee pada 10 Agustus 2026 serta Bulan Purnama pada 13 Agustus 2026 diperkirakan meningkatkan ketinggian muka air laut maksimum sehingga memicu banjir rob di sejumlah wilayah pesisir.
BMKG menjelaskan, potensi banjir pesisir tersebut dapat mengganggu berbagai aktivitas masyarakat di sekitar pelabuhan dan kawasan pesisir, mulai dari kegiatan bongkar muat di pelabuhan, aktivitas di permukiman pesisir, hingga kegiatan tambak garam dan perikanan darat.