Partikel-partikel mikroplastik yang berukuran mikroskopis ini bisa masuk ke tubuh manusia melalui sistem pencernaan maupun pernapasan.
Beberapa studi ilmiah menunjukkan, paparan jangka panjang terhadap mikroplastik dalam jumlah besar berpotensi memicu peradangan pada jaringan tubuh.
Baca Juga:
ALPERKLINAS Dukung BRIN Lebih Utamakan Peneliti Lokal Untuk Bangun PLTN 2032
Selain itu, bahan kimia yang menempel pada mikroplastik seperti bisphenol A (BPA) dan phthalates diketahui dapat mengganggu sistem hormon, fungsi reproduksi, dan perkembangan janin.
Meski demikian, para ahli menekankan bahwa hingga kini belum ada bukti ilmiah yang kuat yang menyatakan mikroplastik secara langsung menyebabkan penyakit tertentu.
Tingkat paparannya pada populasi umum masih tergolong rendah dan masih terus menjadi fokus penelitian global.
Baca Juga:
BRIN Serahkan Aset ke Kemdiktisaintek, ISBI Tanah Papua Siap Optimalkan Fasilitas Riset
Sebagai langkah pencegahan, Aji mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan produk berbahan plastik.
“Gunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, terutama saat udara kering atau setelah hujan. Ini bukan karena air hujannya, tapi untuk mengurangi paparan debu dan polusi yang mungkin mengandung mikroplastik,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya kebiasaan mengurangi plastik sekali pakai, menjaga kebersihan lingkungan, serta tidak membakar sampah plastik yang dapat melepaskan partikel berbahaya ke udara.