Karena posisi kereta yang terlalu tinggi ketimbang peron, membuat Salatun terjatuh di celah peron. Menurut Arif, bapaknya langsung pucat dan lemas.
"Kaki sakit dan badan sakit semua karena tulang kaki tertekuk bodi kereta," kata Arif.
Baca Juga:
Warga Tolak Rencana Penutupan Stasiun Karet Jakarta, Khususnya Pengguna KRL
Setelah itu, petugas dan sejumlah penumpang turut membantu menyelamatkan Salatun. Dengan adanya kejadian ini, Arif berharap semua stasiun di Tanah Air ramah lansia dan difabel.
"(KCI Commuter) Evaluasi berkala ketika batu ballast di bawah rel ditinggikan, maka peron juga harus ditinggikan. Di Stasiun Tebet dahulu tidak setinggi itu. Karena sering banjir, maka batu ballast ditambah berkala tetapi peron tidak pernah disesuaikan," terang Arif.
Terkait kejadian ini, KAI Commuter telah merespons cuitan Arif. KAI Commuter meminta maaf atas insiden tersebut.
Baca Juga:
Libur Idul Adha dan Sekolah, Commuter Wilayah 2 Bandung Siap Operasikan 1.856 Perjalanan
"Kami mohon maaf dan turut prihatin atas kejadian tersebut. Perihal jarak antara peron dengan kereta di Stasiun Tebet tersebut menjadi evaluasi kami ke depannya," tulis akun Twitter KAI Commuter.
Di kesempatan yang berbeda, Manager External Relations & Corporate Image Care KAI Commuter, Leza Arlan, mengatakan perbedaan tinggi dan celah peron sudah menjadi perhatian khusus KAI Commuter.
"KAI Commuter juga secara bertahap menambahkan fasilitas bancik atau tangga portabel untuk mengatasi kendala tersebut," tutur Leza.