Berdasarkan analisis WALHI Kalimantan Barat, terdapat 679 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi dan sedang di dalam dan sekitar area konsesi sepanjang Januari hingga Maret 2026.
Menurut Direktur Eksekutif WALHI Kalimantan Barat Sri Hartini, kondisi ini mencerminkan kerusakan tata kelola lahan akibat praktik eksploitasi yang berlangsung lama.
Baca Juga:
Godzilla El Nino Intai Indonesia, BRIN Peringatkan Kemarau Ekstrem 2026
“Sebaran titik panas di konsesi sawit dan hutan tanaman industri menunjukkan betapa buruknya tata kelola lahan perusahaan, karena perusahaan sengaja membuka ekosistem gambut dengan membuat kanal-kanal drainase yang membuat gambut rusak dan kehilangan fungsi,” kata Sri.
Ditekankan bahwa hasil analisis overlay menunjukkan titik panas tidak muncul secara acak, melainkan terkonsentrasi di area konsesi perusahaan.
Menurutnya, fenomena El Nino hanya menjadi pemicu, sementara penyebab utama karhutla adalah kondisi lahan yang telah rusak dan kering akibat aktivitas korporasi.
Baca Juga:
Api Masih Membara di Parigi Moutong, Binjai dan Demak Dilanda Dampak Cuaca Ekstrem
Ia pun mendesak pemerintah untuk tidak lagi menjadikan faktor cuaca sebagai alasan utama dalam menjelaskan kebakaran hutan dan lahan.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.