Dijelaskan oleh Direktur Eksekutif WALHI Riau Eko Yunanda, hasil analisis satelit Aqua dan Terra menunjukkan 271 titik panas dengan tingkat kepercayaan di atas 80 persen di delapan kabupaten/kota selama periode Rabu (01/01/2026) hingga Rabu (25/03/2026).
Sebagian besar titik panas tersebut berada di kawasan gambut yang rentan terbakar akibat degradasi ekosistem.
Baca Juga:
Godzilla El Nino Intai Indonesia, BRIN Peringatkan Kemarau Ekstrem 2026
Menurut Eko, kondisi ini mencerminkan kegagalan implementasi kebijakan daerah, lemahnya penegakan hukum terhadap korporasi, serta belum optimalnya upaya restorasi gambut.
“Data kami menunjukkan adanya indikasi 100 hotspot yang tersebar di 10 perusahaan perkebunan sawit dan kayu. Lebih parahnya titik api juga ditemukan di areal izin korporasi di pulau-pulau kecil seperti Pulau Rupat, Bengkalis, dan Mendol,” ujar Eko.
Ia menilai pemerintah masih terlalu fokus pada upaya pemadaman dibandingkan pembenahan akar persoalan karhutla.
Baca Juga:
Api Masih Membara di Parigi Moutong, Binjai dan Demak Dilanda Dampak Cuaca Ekstrem
Kondisi ini dinilai cukup menjadi dasar bagi pemerintah untuk mengevaluasi hingga mencabut izin perusahaan yang wilayahnya berulang kali terbakar.
Karhutla di Kalimantan Barat
Dibuka awal tahun 2026 dengan kebakaran hutan besar di Kalimantan Barat yang berdampak langsung pada penurunan kualitas udara dan korban jiwa di Desa Galang Mempawah.