Mantan Pangkostrad itu tak ingin ada kesan
iuran tersebut menjadi sesuatu yang wajib di jajaran pendidikan TNI AD.
Bila prajurit ingin sesuatu yang lebih, buka
saja kantin atau toko, biar mereka sendiri yang membeli sesuai dengan kebutuhan
dan kemampuan.
Baca Juga:
Gaya Berkelas Gubernur Malut Sherly Tjoanda Saat Temui Jenderal Maruli
"Enggak perlu dikoordinir, kalau
mereka mau jajan, buka saja kantin, biar mereka beli sendiri, enggak
usah dikoordinir, enggak usah, enggak perlu, sehingga enggak
ada ruang bagi 'petualang-petualang'," kata Andika.
Andika mengultimatum semua jajaran untuk
membereskan masalah ini.
Andika memberi waktu dua minggu kepada para
pimpinan, sehingga tak ada lagi iuran dalam bentuk apa pun.
Baca Juga:
Panglima TNI Mutasi 117 Pati, 9 Diposisikan di Jajaran Stafsus Maruli Simanjuntak
"Tidak ada lagi! Sampai saya terima
laporan, awas! Saya kasih waktu 2 minggu masing-masing komandan tadi bereskan
dan telusuri ke bawah. Dua minggu dari sekarang masih ada laporan, ya sudah
siap-siap aja," ujar dia.
"Dan jangan ragukan keseriusan saya! Saya
buktikan!" tegasnya.
Andika meminta tak ada lagi iuran dalam bentuk
apa pun. Sebab, tak semua prajurit berasal dari keluarga yang mampu.