WAHANANEWS.CO, Jakarta - Profil David Partonggo Oloan Marpaung tengah menjadi perhatian publik setelah namanya disorot dalam kegiatan resmi bertajuk Bakti Sungai Nusantara yang disiarkan melalui kanal YouTube Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.
David diketahui merupakan pejabat di lingkungan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Baca Juga:
Diduga Tanpa Pemberitahuan Ke Keluarga, Eks Ketua PETIR Jackson Sihombing Di Pindah ke Lapas Nusakambangan
Saat ini, ia menjabat sebagai Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung Cisadane, lembaga yang memiliki peran penting dalam pengelolaan sumber daya air dan pengendalian banjir di wilayah Jabodetabek.
Dalam bidang akademik, David memiliki latar pendidikan yang berkaitan erat dengan pengelolaan infrastruktur air dan teknik sipil.
Ia menyandang gelar Sarjana Teknik (S.T.) serta Magister Pengelolaan Sumber Daya Air (MPSDA) yang memperkuat kompetensinya dalam manajemen tata kelola sungai dan pengendalian banjir.
Baca Juga:
Erick Thohir: Popularitas Kemenpora Sejalan dengan Kepercayaan Publik
Karier David di lingkungan Kementerian PUPR terbilang panjang. Sebelum dipercaya memimpin BBWS Ciliwung Cisadane pada 2025, ia lebih dulu menjabat sebagai Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera VI Jambi pada periode 2024–2025.
Selain itu, David juga tercatat sebagai anggota International Commission on Irrigation & Drainage (ICID) untuk periode 2025–2028.
Dalam kapasitasnya sebagai Kepala BBWS Ciliwung Cisadane, David bertanggung jawab terhadap berbagai proyek strategis nasional, khususnya yang berkaitan dengan pengendalian banjir di Jakarta dan sekitarnya.
Salah satu proyek utama yang menjadi fokus adalah pembangunan tanggul Kali Ciliwung sepanjang 16 kilometer dengan nilai anggaran mencapai Rp1,2 triliun. Ia juga terlibat dalam koordinasi pemulihan infrastruktur pascabencana di wilayah Sumatra.
Namun, perhatian publik terhadap David meningkat setelah dirinya menjadi sorotan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam acara Bakti Sungai Nusantara.
Dalam momen tersebut, AHY tampak beberapa kali mencari keberadaan David ketika sedang memberikan arahan kepada peserta kegiatan.
“Eh, Pak Kepala Balai di sini dulu. Eh, saya bicara untuk Bapak loh. Mau ke mana? Ke mana tadi?” kata AHY, dalam video tersebut, dikutip Selasa (12/5/2026).
Situasi yang awalnya berlangsung santai mendadak berubah menjadi canggung. Sejumlah peserta acara terlihat menoleh ke arah yang dimaksud AHY.
Teguran itu pun berlanjut ketika AHY meminta David tetap berada di tempat untuk mendengarkan arahan secara langsung.
“No, no, no, no. Anda dengarkan saya dulu di sini,”ucap AHY.
AHY tampak menyayangkan sikap pejabat tersebut yang dinilai tidak berada di tempat saat dirinya memberikan arahan penting terkait penanganan banjir dan normalisasi sungai.
“Bagaimana mau mendengarkan arahan kalau Bapak enggak ada? Dua kali saya panggil enggak ada gitu loh ya. Enggak bisa begitu,”ujar AHY.
Di depan para pejabat dan peserta kegiatan lainnya, AHY terus meminta David untuk kembali duduk dan memperhatikan arahan yang sedang disampaikan.
“Tolong duduk dulu. Duduk dulu. Duduk yang baik dulu. Duduk, Pak,” ujarnya.
Nada bicara AHY terdengar tegas dan menunjukkan kekecewaan karena dirinya mengaku telah dua kali memanggil nama kepala balai tersebut tanpa mendapatkan respons.
“Saya dua kali masalahnya manggil kok enggak ada gitu loh. Enggak usah nanti kan kita juga (ke sana). Duduk dulu, Pak. Silakan,”ujarnya.
Dalam kesempatan itu, AHY juga menegaskan pentingnya percepatan normalisasi Kali Ciliwung guna mengurangi risiko banjir di Jakarta.
Menurutnya, progres revitalisasi dan normalisasi sungai saat ini telah mencapai sekitar 52 persen.
"Sisanya 16 km, termasuk tadi kita menyusuri menggunakan perahu karet dari Rawajati ke Bidara Cina kurang lebih 5 km," kata AHY di Inlet Sodetan Kali Ciliwung, Kamis (7/5/2026).
Ia menjelaskan, proyek tersebut mencakup pembangunan tanggul dengan ketinggian sekitar 4 hingga 5 meter di sejumlah titik rawan banjir.
"Ini harus kita segera lakukan normalisasi, pembangunan tanggul kurang lebih tingginya 4 hingga 5 meter dan tadi bisa dihitung berapa panjang di titik-titik yang paling rawan,"jelasnya lagi.
Selain itu, AHY mengungkapkan kondisi Kali Ciliwung mengalami pendangkalan setiap tahun dengan sedimentasi mencapai 20 hingga 50 sentimeter.
Karena itu, pengerukan sungai dinilai harus dilakukan secara berkala agar kapasitas aliran air tetap terjaga.
"Iitu harus dilakukan terus pengerukan. Jadi ini sangat berpengaruh pada kondisi sungai kita,"ujarnya.
AHY juga menyoroti tantangan utama dalam proses normalisasi sungai, yakni persoalan pembebasan lahan yang hingga kini masih menjadi hambatan di sejumlah titik.
"Tadi Bu Wamen (Wamen PU) juga menyampaikan lahannya seringkali masih terhambat, belum clean and clear pengadaannya,"pungkas AHY.
Menurut AHY, percepatan proyek normalisasi Kali Ciliwung membutuhkan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat agar proses pembangunan dapat berjalan optimal.
Awalnya, proyek normalisasi Kali Ciliwung ditargetkan selesai pada 2027. Namun karena berbagai kendala, terutama terkait pengadaan lahan, target penyelesaian diperkirakan mundur hingga 2028 atau 2029.
"Jadi bisa dikatakan kita fokus dua tahun ke depan ini agar bisa menuntaskan. Sebetulnya dari 33 kilometer, separuh lebih, 52 persen sudah dituntaskan. Sisanya kita kejar, tadi juga ada beberapa titik," kata AHY.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]