Meski demikian, perempuan yang akrab disapa Rerie tersebut mengingatkan bahwa tingginya minat baca belum tentu berbanding lurus dengan tingkat literasi.
Literasi tidak hanya soal membaca, tetapi juga kemampuan memahami, menganalisis, dan mengolah informasi menjadi pengetahuan yang bermanfaat.
Baca Juga:
Profil Sushila Karki, Perdana Menteri Nepal Sementara yang Dipilih Generasi Z
Untuk itu, Politisi Fraksi Partai NasDem tersebut mendorong penerapan berbagai strategi guna memastikan kebiasaan membaca dapat berkembang menjadi budaya literasi yang kuat.
Salah satu upaya yang dinilai efektif adalah menggerakkan komunitas baca, baik berbasis digital maupun tatap muka, sehingga tercipta ruang diskusi yang aktif, termasuk kegiatan bedah buku dan penulisan resensi secara mandiri.
Selain itu, Rerie juga menekankan pentingnya peran institusi pendidikan. Sekolah dan perguruan tinggi diharapkan tidak hanya menugaskan siswa untuk membaca, tetapi juga melatih kemampuan berpikir kritis melalui analisis, evaluasi, hingga penyajian ulang informasi dalam berbagai bentuk.
Baca Juga:
Teknologi, Media Sosial, dan Pola Hidup Gen Z: Saat Kesenangan Instan Jadi Kebiasaan
Ia juga menyoroti pentingnya akses terhadap bahan bacaan yang merata dan terjangkau.
Menurutnya, keberadaan buku fisik dan digital di perpustakaan harus terus diperkuat, disertai kebijakan harga buku yang lebih ramah bagi masyarakat luas.
Lebih lanjut, Rerie berharap pemerintah dapat segera menghadirkan kebijakan yang mendukung keterjangkauan bahan bacaan, seperti penghapusan pajak buku dan pemberian insentif terhadap industri kertas.