WAHANANEWS.CO, Jakarta - FIFA mendapat sorotan tajam dari para suporter sepak bola terkait harga tiket pertandingan yang dinilai terlalu mahal.
Harga tiket yang ditetapkan bervariasi cukup tinggi, mulai dari sekitar 140 dolar AS untuk fase grup hingga mencapai 8.680 dolar AS pada partai final.
Baca Juga:
Pemerintah Salurkan BSPS 2026, 19 Rumah di Humbang Hasundutan Siap Diperbaiki
Kebijakan ini memicu kritik luas karena dianggap membatasi akses suporter untuk menyaksikan pertandingan secara langsung.
FIFA diketahui menerapkan sistem harga dinamis, di mana harga tiket dapat berubah mengikuti permintaan pasar.
Namun, kebijakan tersebut justru dinilai berpotensi menyebabkan lonjakan harga yang tidak terkendali, terutama untuk pertandingan dengan minat tinggi.
Baca Juga:
Program SUGT 2026 Resmi Dibuka, Pemerintah Perkuat Ekosistem Pendidikan Menuju Indonesia Emas
Sejumlah kelompok suporter sepak bola di Eropa bersama organisasi konsumen Euroconsumers bahkan telah mengajukan keluhan resmi kepada Komisi Eropa.
Mereka memprotes kebijakan harga tiket yang dianggap tidak ramah bagi penggemar dan berpotensi merugikan konsumen.
Meski demikian, FIFA menyatakan bahwa harga tiket tetap bervariasi dan masih terdapat sejumlah pertandingan dengan harga yang relatif terjangkau bagi suporter.
Beberapa laga yang melibatkan tim seperti Belanda dan Aljazair disebut masih dapat diakses dengan harga lebih rendah dibanding pertandingan besar lainnya.
Pada tahap kedua penjualan, tiket akan mulai tersedia kembali pada 1 April 2026.
Penjualan ini berlangsung hingga akhir turnamen yang dijadwalkan berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli.
Tahap penjualan kedua dilakukan setelah Presiden FIFA, Gianni Infantino, menyampaikan bahwa permintaan tiket pada periode Januari sangat tinggi.
Ia menyebutkan bahwa seluruh tiket untuk 104 pertandingan pada fase awal telah habis terjual.
Dalam fase kedua ini, sistem penjualan tiket dilakukan berdasarkan prinsip siapa cepat dia dapat.
Pembeli juga diberikan kebebasan untuk memilih kursi sesuai ketersediaan.
Berbeda dengan fase pertama, di mana alokasi tiket dilakukan melalui sistem tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya.
Kebijakan ini diharapkan dapat memberikan kesempatan lebih luas bagi penggemar untuk mendapatkan tiket, meskipun kritik terhadap harga masih terus bermunculan.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]