“Pertanian atau pangan itu tidak hanya bicara beras, tapi juga sumber hayati lainnya. Kita harus mulai mengedepankan kearifan lokal seperti sagu, dan juga pengembangan sorgum,” jelasnya.
Firman mencontohkan sagu dan sorgum sebagai komoditas lokal yang memiliki prospek besar untuk dikembangkan.
Baca Juga:
Firman Soebagyo Minta Pemerintah Evaluasi Ekspor Sawit Satu Pintu, Harga TBS Petani Tertekan
Khusus untuk sorgum, ia menilai tanaman tersebut dapat menjadi alternatif sumber pangan sekaligus bahan baku pengganti gandum yang selama ini masih banyak diimpor dari luar negeri.
Menurutnya, penguatan diversifikasi pangan menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap komoditas impor.
Melalui revisi UU Pangan, pemerintah diharapkan dapat memberikan dukungan yang lebih kuat terhadap pengembangan budidaya pangan lokal sehingga ketahanan pangan nasional menjadi lebih mandiri dan berkelanjutan.
Baca Juga:
Firman Soebagyo Usulkan UU Perkelapasawitan demi Lindungi Petani dan Investasi
Selain itu, Firman juga memberikan apresiasi terhadap upaya pemerintah dalam mempercepat program swasembada pangan.
Ia menilai keberhasilan menekan impor beras menjadi bukti bahwa target swasembada dapat dicapai melalui kebijakan yang tepat dan komitmen yang kuat dari seluruh pemangku kepentingan.
“Saya memberikan apresiasi kepada pemerintah bahwa target swasembada pangan yang ditargetkan 2027 dan 2025 sudah tercapai. Akhirnya kita tidak impor beras,” ungkapnya.