Meski demikian, Firman mengingatkan bahwa tantangan dalam mewujudkan ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi beras.
Faktor pendukung lainnya, seperti ketersediaan sarana produksi pertanian, khususnya pupuk dan bahan baku pupuk, juga memegang peranan penting dalam menjaga produktivitas sektor pertanian.
Baca Juga:
Firman Soebagyo Minta Pemerintah Evaluasi Ekspor Sawit Satu Pintu, Harga TBS Petani Tertekan
Ia mencontohkan situasi global yang tidak menentu, termasuk dampak konflik geopolitik dan kenaikan harga energi dunia, yang berpotensi memengaruhi pasokan bahan baku pupuk serta meningkatkan biaya produksi pertanian di dalam negeri.
“Pupuk ini tadi saya sampaikan bahwa pengalaman kita sekarang dengan adanya perang kesulitan untuk mendapatkan bahan baku. Harga gas naik, harga bahan baku juga cukup mahal, dan ini bisa memengaruhi,” ungkap politisi Fraksi Partai Golongan Karya tersebut.
Karena itu, Firman menilai revisi UU Pangan perlu mengakomodasi perkembangan teknologi secara lebih komprehensif.
Baca Juga:
Firman Soebagyo Usulkan UU Perkelapasawitan demi Lindungi Petani dan Investasi
Pemanfaatan teknologi tidak hanya terbatas pada penggunaan alat dan mesin pertanian modern, tetapi juga mencakup inovasi dalam sistem budidaya, pengelolaan lahan, hingga teknologi pemupukan yang lebih efektif dan ramah lingkungan.
“Teknologi tidak hanya mesin atau alat-alat pertanian, tapi juga teknologi penggunaan pupuk. Seperti di Vietnam, pupuk organik juga digunakan untuk meningkatkan produksi. Ini juga bagian dari teknologi,” ujarnya.
Lebih lanjut, Firman berharap Rancangan Undang-Undang Pangan yang tengah disusun dapat menghasilkan regulasi yang visioner, adaptif, dan mampu menjawab kebutuhan bangsa dalam jangka panjang.