Ia menekankan bahwa mitigasi harus menjadi prioritas utama, mengingat waktu terjadinya gempa tidak dapat dipastikan.
Karena itu, baik persiapan fisik (struktural) maupun non-fisik (non-struktural) harus dipercepat agar masyarakat siap menghadapi skenario terburuk kapan saja.
Baca Juga:
Muncul Fenomena di Jawa-Nusa Tenggara, BMKG Keluarkan Peringatan Periode 1-4 Mei 2026
Lebih lanjut, Daryono mengungkapkan bahwa sejumlah pemerintah daerah telah bergerak cepat membangun jalur evakuasi dan tempat perlindungan tsunami.
Langkah ini dinilai sebagai perkembangan positif dalam memperkuat sistem perlindungan masyarakat di daerah rawan gempa dan tsunami.
Tak hanya membangun infrastruktur evakuasi, edukasi publik juga menjadi elemen vital dalam strategi mitigasi.
Baca Juga:
Warga Bitung Geger, Suara Misterius dari Dalam Tanah Diselidiki BMKG
“Saat terjadi gempa, masyarakat harus segera melakukan evakuasi mandiri, terutama bila mereka berada di kawasan pesisir,” jelasnya, menegaskan pentingnya kesadaran dan kecepatan bertindak dalam situasi darurat.
Meski demikian, Daryono mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan rasional dalam merespons informasi bencana.
“Selama BMKG tidak mengeluarkan peringatan resmi, masyarakat tidak perlu panik secara berlebihan,” pungkasnya.