Sejauh ini, beberapa
instansi yang mulai ke arah sana adalah Kementerian Perhubungan dan Pemprov
Jawa Barat.
"Indonesia adalah pasar penjualan
dan produksi otomotif terbesar di ASEAN. Proyeksinya akan tumbuh dengan
tambahan 2 juta produksi pada tahun 2025, ini bisa menjadi peluang untuk
mengembangkan electric vehicle,"
lanjutnya.
Baca Juga:
Menperin: Manufaktur Tumbuh dan Menyerap Tenaga Kerja Baru Lebih Banyak Dari PHK
Untuk mencapai itu, Indonesia dengan
cadangan bahan baku baterai berupa nikel terbesar di dunia, juga harus bisa
menguasai salah satu rantai pasok baterai, yang menjadi jantung dari semua
kendaraan listrik berbasis baterai.
Sehingga nantinya diharapkan bukan
cuma mengimpor baterai dan mengekspor sumber daya mineral, tetapi juga
memanfaatkan potensi nilai tambah produk berupa baterai jadi dan kendaraan
listrik.
Agus mengatakan, saat ini sudah ada sembilan perusahaan yang mendukung industri
baterai.
Baca Juga:
Industrial Festival 2024: Menperin Tantang Generasi Muda Jadi Masa Depan Sektor Industri
Terdiri atas lima perusahaan penyedia
bahan baku dan sisanya produsen baterai.
"Dengan demikian Indonesia mampu
mendukung rantai pasokan baterai untuk kendaraan listrik mulai dari bahan baku,
kilang, manufaktur sel baterai, perakitan, manufaktur kendaraan listrik dan
daur ulang," terangnya.
Direktur Utama PT Industri Baterai
Indonesia (IBI), Toto Nugroho,
menambahkan, meski punya pasar dan didukung dari sumber daya yang besar,
Indonesia juga dihadapkan pada sejumlah tantangan.