“Sampah organik seharusnya tidak berakhir di TPA. Dengan teknologi dan manajemen yang tepat, ia bisa diolah kembali menjadi kompos atau energi yang mendukung operasional kawasan,” ujar Tohom.
Dalam konteks daya saing global, Tohom menilai wisatawan internasional kini semakin sensitif terhadap isu lingkungan.
Baca Juga:
Pariwisata RI Terancam, Konflik Timur Tengah Bisa Gerus Devisa Ratusan Miliar
Destinasi yang mampu menunjukkan komitmen nyata terhadap pengelolaan sampah dan limbah akan memiliki nilai tambah tersendiri.
“Ekologi hari ini sudah menjadi bahasa universal dalam industri pariwisata,” ujarnya.
Tohom yang juga Pengamat Energi dan Lingkungan ini mengatakan bahwa pengelolaan sampah terpadu di kawasan wisata perlu dikaitkan dengan perencanaan wilayah yang lebih luas.
Baca Juga:
Kontribusi Pariwisata ke PDB 2023 Capai 4,67 Persen, Data Jadi Sorotan
Menurutnya, kawasan wisata tidak boleh menjadi pulau eksklusif yang bersih sendiri, sementara lingkungan sekitarnya menanggung beban.
“Pendekatan aglomerasi penting agar sistem pengelolaan sampah kawasan terintegrasi dengan kota dan wilayah penyangga,” katanya.
Ia menambahkan, kolaborasi antara pengelola kawasan, pemerintah daerah, dan masyarakat sekitar menjadi kunci keberhasilan.