Salah satu upaya yang dinilai dapat segera dioptimalkan adalah mengaktifkan kembali skema Local Currency Settlement (LCS) yang telah disepakati Indonesia dengan sejumlah negara mitra dagang utama.
Menurut Kamrussamad, Indonesia telah memiliki kerja sama penggunaan mata uang lokal dengan beberapa negara seperti Tiongkok, Jepang, Malaysia, dan sejumlah negara lainnya.
Baca Juga:
Meski Dolar Rp17.600 Gubernur BI Bilang Rupiah Masih Stabil
Namun, implementasinya masih perlu diperkuat agar manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas oleh pelaku usaha dan perekonomian nasional.
“Yang pertama harus dilakukan adalah mengaktifkan kembali Local Currency Settlement yang pernah ditandatangani dengan beberapa negara, termasuk China, Jepang, dan Malaysia. Ini penting untuk mengurangi ketergantungan transaksi perdagangan terhadap dolar,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan bilateral dapat mengurangi kebutuhan terhadap dolar AS sebagai alat pembayaran utama.
Baca Juga:
DPR Minta BI Tekan Dolar ke Rp16.000-an, Ini Alasannya!
Dengan demikian, tekanan terhadap cadangan devisa negara dapat ditekan sekaligus membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.
Lebih lanjut, Kamrussamad menilai penguatan implementasi LCS merupakan bagian dari strategi jangka panjang dalam membangun ketahanan ekonomi nasional.
Semakin banyak transaksi internasional yang menggunakan mata uang lokal, semakin besar pula ruang bagi Indonesia untuk mengurangi risiko yang berasal dari fluktuasi mata uang global.