"Itu kecenderungan ke sana, jadi kemarin belum didiagnosis pasti, baru sementara. Itu yang speech delay ada tiga (anak), terus ada yang hiperaktif, ADHD, bahasanya ADHD," sambung Emma.
Untuk anak dengan gizi kurang, penanganan akan dilakukan melalui puskesmas setempat dengan pemberian makanan tambahan serta pendampingan tenaga medis.
Baca Juga:
Sony Sonjaya Bongkar Dugaan CCTV Fiktif MBG Rp300 Miliar, Kejagung Diminta Usut Siapa Dalangnya
Sementara anak yang mengalami gangguan perkembangan akan menjalani pemeriksaan lanjutan untuk menentukan terapi yang sesuai.
"Kalau yang [masalah] pertumbuhan, kalau memang masih bisa, ya nanti ditindaklanjuti oleh psikolog puskesmas. Kan kemarin juga psikolog puskesmas yang memeriksa. Lha nanti kalau memang harus rujuk, ya nanti kita rujuk gitu," kata Emma.
Ia menambahkan proses pemulihan membutuhkan waktu yang tidak singkat, bahkan bisa memakan waktu hingga enam bulan tergantung tingkat keparahan kondisi anak.
Baca Juga:
20 Kampus Terbaik Indonesia Versi QS WUR 2027, UI Masih Tak Tergoyahkan
"Psikolognya nanti bisa merencanakan terapinya gitu, apakah nanti terapinya bagaimana, butuh waktu paling tidak 6 bulan lah, nanti kita evaluasi lagi. Ya beda-beda, tergantung tingkat keparahan dari dia," ujarnya.
Kasus ini terungkap setelah aparat menggerebek daycare tersebut di kawasan Sorosutan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta pada bulan lalu terkait dugaan penganiayaan terhadap anak.
Saat penggerebekan, ditemukan anak-anak dalam kondisi memprihatinkan, termasuk diikat tangan dan kaki serta hanya mengenakan popok.