Kilang mini LNG ini memanfaatkan suplai gas dari Wilayah Kerja Minyak dan Gas Madura Strait yang dioperasikan oleh Husky-CNOOC Madura Limited (HCML).
Gas yang sebelumnya disalurkan melalui pipa kini dapat dicairkan sehingga lebih efisien untuk diangkut menggunakan moda transportasi darat maupun laut.
Baca Juga:
Pemerintah Batasi Izin Baru SDA, Hanya untuk BUMN dan Lembaga Negara
Dengan metode ini, LNG dapat dikirim ke berbagai pembangkit listrik, kawasan industri, hingga pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru yang membutuhkan pasokan energi bersih dan stabil.
Proyek strategis ini dibangun dengan nilai investasi sekitar Rp247 miliar. Fasilitas tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi sekitar 20 ton LNG per hari atau hampir 7.000 ton per tahun.
Dengan kapasitas tersebut, kilang mini LNG diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata terhadap diversifikasi pasokan energi nasional sekaligus mendukung agenda transisi energi yang lebih ramah lingkungan.
Baca Juga:
ESDM Prioritaskan Sampah Jadi Energi, Presiden Prabowo Pantau Langsung Proyek Waste to Energy
Pemerintah berharap keberadaan fasilitas ini dapat menjadi contoh atau role model bagi daerah lain, terutama wilayah penghasil gas bumi, untuk mengembangkan teknologi serupa.
Inovasi mini LNG dinilai mampu menjawab tantangan distribusi energi di negara kepulauan seperti Indonesia, yang memiliki banyak wilayah terpencil dan belum sepenuhnya terjangkau infrastruktur pipa gas.
Dari sisi industri nasional, proyek ini juga menunjukkan komitmen kuat terhadap penggunaan produk dan teknologi dalam negeri. Tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) yang dicapai terbilang sangat tinggi.