"Dari pengembangan teknologi, mini LNG ini menggunakan tingkat komponen dalam negeri atau TKDN yang cukup tinggi, sekitar 86% dari informasi yang kami terima. Jika dibandingkan dengan standar yang kita tetapkan sekitar 30-40%, capaian ini jauh di atas ketentuan. Tentu ini merupakan bagian dari kolaborasi teknologi. Tadi Mr Ambassador juga menyampaikan bahwa ini merupakan kolaborasi teknologi antara Indonesia dengan Galileo, perusahaan teknologi dari Argentina," jelasnya.
Fasilitas ini berdiri di atas lahan seluas satu hektare dan mengoperasikan unit-unit modular cryobox.
Baca Juga:
Pemerintah Batasi Izin Baru SDA, Hanya untuk BUMN dan Lembaga Negara
Direktur Utama PT. Liquid Nusantara Gas, Wira Rahardja, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat tiga mesin cryobox dari Galileo Technologies yang telah beroperasi, dan jumlahnya akan ditingkatkan menjadi lima unit untuk mendongkrak kapasitas produksi.
"Teknologi ini kami pilih karena paling tepat untuk mini LNG. Selain mudah dipindahkan, proses instalasi dan pengoperasiannya juga relatif cepat. Ke depan akan ada lima cryobox, dengan kapasitas produksi sekitar 2.500 ton LNG per bulan," ujar Wira.
Teknologi cryobox tersebut memanfaatkan sistem Nano LNG Liquefaction, yakni kombinasi prinsip Joule-Thomson dengan loop refrigerant (propana) tertutup.
Baca Juga:
ESDM Prioritaskan Sampah Jadi Energi, Presiden Prabowo Pantau Langsung Proyek Waste to Energy
Sistem ini memungkinkan unit mulai memproduksi LNG dalam waktu sekitar lima menit dan mencapai kapasitas penuh dalam 10 menit.
Keunggulan modular dan kecepatan operasional ini membuat instalasi mini LNG sangat fleksibel untuk ditempatkan di kawasan industri, pelabuhan kecil, maupun wilayah dengan keterbatasan infrastruktur permanen.
Duta Besar Argentina untuk Indonesia, Gustavo Ricardo Coppa, turut menyoroti pentingnya kerja sama teknologi dalam proyek ini.