Lebih lanjut, Tohom menekankan bahwa adaptasi teknologi harus berjalan seiring dengan edukasi publik dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Konsep ekonomi sirkular, menurutnya, perlu menjadi roh utama dalam pengelolaan sampah agar tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga membuka peluang peningkatan kesejahteraan warga.
Baca Juga:
Depok Kembangkan Pengolahan Sampah Jadi Bahan RDF, MARTABAT Prabowo-Gibran: Perlu Diperluas ke Daerah Lain
Tohom yang juga Pengamat Energi dan Lingkungan ini mengatakan bahwa persoalan sampah tidak bisa dipisahkan dari cara kita merencanakan ruang hidup dan mengelola lingkungan secara menyeluruh.
“Pengelolaan sampah berkaitan dengan ekosistem kebijakan dan kesadaran bersama. Karena itu, adopsi teknologi pengolahan sampah harus diiringi dengan edukasi berkelanjutan, penguatan regulasi, serta pembagian peran yang jelas antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat,” ujarnya.
Ia menilai langkah Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang mengombinasikan pendekatan hulu melalui perubahan perilaku masyarakat dengan pendekatan hilir melalui pemanfaatan teknologi ramah lingkungan sudah berada di jalur yang tepat untuk mewujudkan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Baca Juga:
Mediasi Gagal, Korban Pengeroyokan Tolak Damai, Minta Pelaku Diproses Hukum
MARTABAT Prabowo-Gibran berharap pengalaman Singapura dapat menjadi inspirasi, bukan sekadar contoh, sehingga lahir model pengelolaan sampah khas Indonesia yang berkelanjutan dan berkeadilan.
“Intinya, ini adalah soal belajar lalu menyesuaikan. Jika kearifan lokal dijadikan fondasi dan teknologi dijadikan alat, kami yakin persoalan sampah bisa ditangani secara lebih manusiawi dan berdampak jangka panjang,” pungkas Tohom.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.