- Program Kiai dan Nyai Berdaya, yang diarahkan untuk memperkuat kapasitas para pengasuh pesantren melalui pelatihan ilmu agama kontemporer dan kompetensi profesional lainnya.
- Program Pesantren Digital, sebagai upaya memperluas akses teknologi, digitalisasi administrasi, serta peningkatan literasi digital di lingkungan pesantren.
Baca Juga:
BMKG Prediksi Lebaran 2026 Jatuh 21 Maret, Hilal 19 Maret Belum Penuhi Kriteria
Dalam kesempatan itu, Pratikno menegaskan bahwa Ditjen Pesantren harus berjalan melalui kolaborasi lintas kementerian dan lembaga.
Ia menyebut sejumlah mitra strategis seperti Kementerian PUPR, Kementerian Kesehatan, Kementerian Ketenagakerjaan, Kementerian Koperasi dan UMKM, Kementerian Perumahan, Kementerian P2MI, hingga dunia usaha, Kadin, lembaga filantropi, dan organisasi masyarakat sipil.
Menurutnya, kerja gotong royong adalah kunci agar pesantren mampu berkembang lebih cepat dan berkelanjutan.
Baca Juga:
Kemenag Jelaskan Jet Pribadi Menag Saat Resmikan Balai Sarkiah di Takalar
“Prinsip gotong royong harus menjadi ruh. Pesantren tidak bisa dibiarkan berjalan sendiri,” jelasnya.
Di akhir pemaparannya, ia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menjadikan Ditjen Pesantren sebagai ruang bersama untuk merawat warisan keilmuan sekaligus membuka pintu bagi inovasi.
“Insya Allah kita akan sampai pada tujuan. Mari jadikan Ditjen Pesantren sebagai rumah bersama rumah untuk merawat tradisi dan rumah untuk menyambut masa depan,” tandasnya.