Meskipun sebagian besar wilayah New York City memiliki lapisan batuan dasar sekis, marmer, dan gneiss, bebatuan ini memiliki tingkat elastisitas dan rekahan yang memicu penurunan.
Tapi tanah yang kaya akan lempung dan material yang sangat lazim di bagian bawah Manhattan dapat menyebabkan penurunan muka tanah secara signifikan.
Baca Juga:
Libur Lebaran Idulfitri, Pengunjung Margasatwa Ragunan Capai Angka 102.928 Orang
Jadi, memastikan agar bangunan terbesar diposisikan di atas batuan dasar yang paling kokoh bisa membantu mengurangi tren penurunannya.
Solusi lainnya, setidaknya untuk beberapa tempat, adalah memperlambat penarikan air tanah dan ekstrasi dari akuifer bawah tanah.
Parsons dan rekan-rekannya memperingatkan bahwa meningkatnya urbanisasi kemungkinan besar akan memperbanyak jumlah air tanah yang diekstrak, lalu lebih banyak konstruksi dibangun untuk mengatasi pertumbuhan populasi.
Baca Juga:
H+1 Lebaran Idulfitri, Kualitas Udara di Jakarta Masuk Kategori Baik
Menemukan cara yang berkelanjutan untuk memasok kebutuhan air kota dan mempertahankan level air tanah bisa membantu mengatasi isu ini.
Namun, pendekatan yang paling umum adalah melalui program pembangunan pertahanan banjir, seperti tanggul laut, yang berantakan dan jauh dari sempurna.
Tokyo beradaptasi terhadap penurunan muka tanah melalui dua cara. Kota ini telah membangun struktur fisik seperti tanggul beton, tembok laut, stasiun pompa dan pintu air. Upaya itu dikombinasikan dengan langkah-langkah sosial seperti latihan evakuasi dan sistem peringatan dini.