Di balik tingginya konektivitas digital tersebut, Nezar menilai penting bagi masyarakat untuk tetap menjaga keseimbangan antara kehidupan di ruang digital dan interaksi sosial secara langsung di dunia nyata.
“Saat ini kita tidak lagi sekadar menggunakan teknologi, tetapi hidup di dalamnya. Ada banyak permainan anak yang mulai tergusur oleh ruang digital. Egrang menjadi salah satu yang tetap bertahan karena dijaga bersama oleh komunitas,” katanya.
Baca Juga:
Menkomdigi Gaungkan Prinsip ‘Tunggu Anak Siap’ untuk Lindungi Anak di Ruang Digital
Ia menegaskan bahwa upaya pelindungan anak di ruang digital tidak cukup hanya dilakukan melalui regulasi terhadap platform digital semata.
Menurutnya, dibutuhkan pula dukungan lingkungan sosial yang sehat, baik dari keluarga maupun komunitas masyarakat.
Nezar menjelaskan semangat PP TUNAS harus berjalan beriringan dengan penguatan interaksi sosial anak di lingkungan nyata.
Baca Juga:
PP Nomor 17 Tahun 2025, Langkah Nyata Pemerintah Wujudkan Ruang Digital Ramah Anak
“Bermain egrang bukan sekadar permainan tradisional. Anak-anak kembali berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, belajar menjaga keseimbangan, belajar bekerja sama, dan membangun keberanian melalui pengalaman nyata,” tuturnya.
Selain itu, ia juga menyoroti nilai-nilai karakter yang lahir dari permainan tradisional.
Dalam permainan egrang, anak-anak tidak hanya belajar keterampilan fisik, tetapi juga belajar menghadapi kegagalan dan membangun rasa percaya diri.