WAHANANEWS.CO - Kabar duka datang dari Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Pelalawan, Riau, setelah gajah Sumatera bernama Indro yang selama ini dikenal sebagai bagian dari Tim Flying Squad mati pada usia 45 tahun usai mengalami komplikasi kesehatan saat menjalani fase musth.
Balai Taman Nasional Tesso Nilo mengumumkan gajah Sumatera jantan bernama Indro dinyatakan mati pada Senin (29/06/2026) sekitar pukul 03.45 WIB setelah menjalani penanganan medis intensif akibat komplikasi kesehatan yang dipicu penurunan nafsu makan pasca-fase musth.
Baca Juga:
Pembunuhan Gajah Sumatera, LAM Riau: Ini Kejahatan terhadap Alam
"Gajah Indro dinyatakan mati setelah mendapatkan penanganan medis secara intensif oleh tim gabungan Balai Besar KSDA Riau dan Balai TN Tesso Nilo akibat komplikasi kesehatan yang dipicu oleh penurunan nafsu makan pasca-fase musth," demikian keterangan Balai TN Tesso Nilo yang dikutip dari akun Instagram resminya, Selasa (30/06/2026).
Fase musth merupakan siklus biologis alami pada gajah jantan dewasa yang ditandai dengan peningkatan hormon testosteron hingga sekitar 10 kali lipat, sehingga membuat perilaku gajah menjadi lebih agresif, disertai keluarnya urine dari preputium serta cairan dari kelenjar temporal yang berada di kedua sisi kepala.
Fase tersebut menjadi penanda bahwa gajah jantan berada dalam masa siap bereproduksi sehingga memiliki peran penting bagi keberlangsungan regenerasi gajah Sumatera sebagai satwa liar yang dilindungi.
Baca Juga:
Gajah Sumatera Ditembak Mati di Pelalawan, Gading Diduga Diburu
Balai TN Tesso Nilo menjelaskan fase musth pada Indro mulai terpantau sejak 25 April 2026 dan perilakunya berubah semakin agresif mulai Kamis (01/05/2026), ditandai keluarnya cairan dari alat kelamin.
"Tanggal 6 Mei 2026, cairan sekresi dari lubang musth di area pelipis kepala mulai keluar dan tampak basah," jelas Balai TN Tesso Nilo.
Memasuki awal Juni 2026, Indro ditempatkan di Camp Flying Squad dengan ikatan pengamanan karena tidak lagi dapat didekati maupun merespons perintah mahout serta mulai menunjukkan perilaku yang membahayakan keselamatan petugas, sehingga kebutuhan pakan dan air minumnya dipenuhi dari jarak aman.
Karena fase musth berlangsung cukup lama, tim medis Balai TN Tesso Nilo bersama Balai Besar KSDA Riau melakukan pembiusan atau sedasi pada Rabu (24/06/2026) untuk memasang rantai tambahan sebagai langkah pengamanan, kemudian memberikan penawar bius hingga Indro kembali sadar dalam kondisi berdiri stabil.
"Mulai siang hari pascapembiusan, gajah Indro terpantau mengalami penurunan nafsu makan dan minum secara drastis. Mahout dari tim medis BTNTN langsung melakukan pemantauan intensif selama 24 jam penuh serta berkoordinasi secara ketat dengan dokter hewan ahli untuk penanganan lanjutan," jelasnya.
Selama masa pemantauan, kondisi kesehatan Indro terus diawasi oleh tim medis, Flying Squad, dan para mahout hingga akhirnya pada Senin (29/06/2026) sekitar pukul 03.30 WIB terjadi perubahan kondisi fisik secara mendadak dan gajah ditemukan dalam posisi terbaring.
Dokter hewan bersama tim mahout kemudian melakukan pemeriksaan fungsi pernapasan dan tindakan resusitasi jantung paru (CPR), namun upaya penyelamatan tersebut tidak membuahkan hasil.
"Namun, gajah Indro tidak memberikan respons dan secara resmi dinyatakan mati pada pukul 03.45 WIB," demikian keterangan Balai TN Tesso Nilo.
Kepergian Indro menjadi duka bagi dunia konservasi karena selama bertahun-tahun gajah tersebut berperan penting dalam Tim Flying Squad Taman Nasional Tesso Nilo untuk membantu mitigasi konflik antara manusia dan gajah liar di kawasan tersebut.
Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan turut menyampaikan belasungkawa atas kepergian Indro yang dinilai telah memberikan pengabdian besar dalam upaya pelestarian satwa liar di Riau.
"Kepergian Indro, Gajah Sumatera yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari Elephant Flying Squad Taman Nasional Tesso Nilo, meninggalkan duka mendalam bagi seluruh pecinta alam dan satwa liar. Dedikasinya dalam membantu mitigasi konflik antara manusia dan gajah adalah pengabdian yang tak ternilai," kata Irjen Herry Heryawan.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]