Ia menilai kampung-kampung nelayan yang nantinya dibangun pemerintah dapat terintegrasi dengan fasilitas eks Usaha Mina sebagai pusat pengumpulan, pengolahan, hingga ekspor hasil tangkapan nelayan Papua.
Selain itu, Robert juga menyinggung keberadaan PT West Irian Fisheries (WIF), perusahaan perikanan asal Jepang yang pernah menjadi penggerak utama ekonomi Sorong sejak era 1970-an melalui kerja sama dengan pengusaha asli Papua.
Baca Juga:
DPR Puji dan Apresiasi Cara Kerja Mentan Amran Sulaiman
Perusahaan tersebut sempat berjaya sebagai eksportir tuna dan udang sekaligus penyerap ribuan tenaga kerja lokal.
Namun, operasional perusahaan itu akhirnya terhenti setelah kebijakan pembatasan kapal asing diberlakukan, sehingga armada penangkapan ikan tidak lagi beroperasi dan aktivitas pabrik ikut berhenti.
“Papua pernah punya industri perikanan besar lewat Jayanti, Usaha Mina, dan WIF. Itu bukti bahwa kalau dikelola serius, Papua bisa menjadi kekuatan besar industri perikanan nasional. Kampung Nelayan Merah Putih harus menjadi titik awal menghidupkan kembali kejayaan itu,” tegas Robert.
Baca Juga:
Bahas Soal Mudik Lebaran, Komisi IV DPR RI Soroti Ketahanan Energi
Saat ini, lanjutnya, industri pengolahan ikan berskala besar di Papua praktis hanya menyisakan PT Citra Raja Ampat Canning di Sorong, Papua Barat Daya.
Kondisi tersebut dinilai sangat kontras dengan besarnya potensi sumber daya perikanan yang dimiliki Papua.
Di sisi lain, Robert juga menyoroti lemahnya pengawasan di kawasan perairan terluar Papua yang dinilai rawan praktik illegal fishing.