"Pada 1981, sejak kembali dari Amerika, saya bersama Pak Luhut dipanggil oleh Pak Benny Moerdani. Kami diperintahkan untuk sekolah ke Jerman, sekolah antiteror GSG9,” tulis Prabowo dalam bukunya, dikutip dari Kompas (24/3/2026).
“Setelah sekolah itu, kami diperintahkan membentuk pasukan antiteror yang kemudian diberi nama Detasemen 81 karena dibentuk pada 1981,” ujar Prabowo.
Baca Juga:
KPK Pertimbangkan Pemanggilan Luhut Binsar Pandjaitan Terkait Proyek Kereta Cepat Whoosh
Tak lama setelah dibentuk, Detasemen 81 langsung menunjukkan kiprahnya melalui operasi besar pembebasan sandera pesawat Garuda Indonesia DC-9 Woyla di Bandara Don Mueang, Bangkok, Thailand.
Peristiwa pembajakan yang terjadi pada 28 Maret 1981 itu dilakukan oleh kelompok yang menamakan diri Komando Jihad.
“Ini adalah salah satu peristiwa pembebasan sandera yang paling terkenal di dunia pada saat itu,” kenang Prabowo.
Baca Juga:
Luhut Minta Prabowo Tetap Optimistis Soal Ekonomi RI
Dalam proses pembentukan dan pelatihan pasukan antiteror tersebut, Prabowo menyebut Luhut berperan besar, khususnya dalam menyusun rencana latihan serta administrasi pembangunan satuan.
Sementara itu, Prabowo sendiri bertanggung jawab dalam pembangunan pangkalan dan pengorganisasian pasukan.
Hubungan kerja keduanya diakui Prabowo terjalin sangat baik, meskipun kerap diwarnai perbedaan karakter yang sama-sama tegas dan kuat.