“Regulasi harus adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Jangan sampai sesuatu yang sebenarnya bernilai ekonomi tinggi justru terhambat karena pendekatan regulasi yang tidak relevan,” katanya.
Lebih jauh, ia mendorong kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, lembaga riset, dan pelaku industri guna mempercepat inovasi teknologi pengolahan limbah sawit.
Baca Juga:
Sawit Naik Kelas di Jambi, Workshop EMG-BPDP Buka Peluang Baru Kuliner UMKM
Tohom menilai sinergi tersebut akan mempercepat lahirnya produk-produk bernilai tambah tinggi yang mampu meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global.
Sebagai Pengamat Energi dan Lingkungan, Tohom menambahkan bahwa hilirisasi limbah kelapa sawit juga memiliki dampak signifikan terhadap penurunan emisi karbon.
Ia menilai pemanfaatan limbah menjadi energi terbarukan akan memperkuat posisi Indonesia dalam transisi menuju ekonomi rendah karbon.
Baca Juga:
Sawit-Batu Bara dan Paduan Besi Wajib Ekspor Lewat BUMN Khusus
“Kalau ini dikelola serius, kita tidak hanya menyelesaikan persoalan limbah, tetapi juga memperkuat ketahanan energi nasional berbasis sumber daya terbarukan,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa konsep zero waste dalam industri kelapa sawit harus diwujudkan secara nyata melalui kebijakan yang progresif dan implementasi di lapangan.
Menurutnya, seluruh bagian dari kelapa sawit pada dasarnya memiliki nilai guna, sehingga tidak seharusnya ada yang terbuang percuma.