Aksi yang diikuti anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), dan perwakilan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) itu berlangsung dari Simpang Tiga Herlingga hingga Patung Bung Karno pada Selasa (28/7). Sejumlah peserta juga mengenakan penutup mata dan mulut sebagai simbol keprihatinan terhadap kondisi kebebasan pers dan demokrasi di Indonesia.
Selain itu, aksi protes juga terjadi di Kota Solo. Sejumlah jurnalis dan perwakilan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) di wilayah Soloraya menggelar aksi damai untuk mengecam intimidasi terhadap jurnalis melalui pelabelan “Londo Ireng”. Aksi tersebut berlangsung di Bundaran Monumen Pers, Kota Solo, pada Selasa (28/7/2026) siang.
Baca Juga:
Pernyataan Said Iqbal Soal Tewasnya Tiga Pekerja Kontraktor Pipa Air Bersih Diduga Blunder: Presiden Prabowo Perlu Mengevaluasi atau Mencopotnya
Aksi damai itu diinisiasi oleh sejumlah organisasi profesi kewartawanan, antara lain Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Solo, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Solo, Pewarta Foto Indonesia (PFI) Solo, serta sejumlah Lembaga Pers Mahasiswa (LPM).
Memahami Makna Historis “Londo Ireng”
Secara historis, istilah “Londo” merupakan sebutan masyarakat Jawa terhadap orang Belanda pada masa kolonial, sedangkan “Ireng” berarti hitam. Dalam perkembangan sejarah, istilah “Londo Ireng” digunakan secara kiasan untuk menyebut pribumi yang dianggap berpihak kepada pemerintah kolonial atau membantu kepentingan penjajah dengan mengorbankan kepentingan bangsanya sendiri.
Baca Juga:
Eks Jampidsus dan Pimpinan BGN Jadi Tersangka, Bukti Komitmen Prabowo Mengejar Koruptor Hingga ke Ujung Dunia
Istilah tersebut bukanlah istilah hukum, melainkan istilah sosial-politik yang lahir dari pengalaman kolonialisme di Nusantara. Karena itu, maknanya tidak dapat dilepaskan dari konteks sejarah perjuangan bangsa melawan penjajahan.
Indonesia Tidak Lagi Menghadapi Kolonialisme Fisik
Indonesia telah merdeka selama lebih dari delapan dekade sejak Proklamasi 17 Agustus 1945. Penjajahan fisik oleh bangsa asing telah berakhir. Karena itu, tantangan bangsa saat ini bukan lagi kolonialisme dalam pengertian klasik.