Besarnya nilai impor tersebut membuat pelemahan rupiah berdampak langsung terhadap biaya produksi industri nasional. Ketika nilai tukar rupiah turun, perusahaan harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk membeli bahan baku maupun barang modal dari luar negeri.
Kondisi itu turut memengaruhi harga barang di pasar domestik karena kenaikan biaya impor biasanya diikuti peningkatan harga produksi.
Baca Juga:
BPOM Ungkap Kondisi Industri Jamu RI, Banyak Tak Memahami Regulasi
Dalam jangka panjang, tekanan terhadap industri dapat memengaruhi stabilitas ekonomi nasional apabila ketergantungan impor tidak dikurangi.
Untuk mengurangi ketergantungan impor, pemerintah dinilai perlu memperkuat produksi dalam negeri, terutama pada sektor pangan, energi, dan industri manufaktur.
Peningkatan produktivitas pertanian menjadi langkah penting agar kebutuhan seperti gandum, jagung, gula, dan kedelai dapat lebih banyak dipenuhi dari produksi nasional.
Baca Juga:
Tampung Minyak Impor dari Rusia Pemerintah Siapkan BLU, Ini Alasannya
Di sektor energi, pengembangan kilang minyak dan percepatan penggunaan energi alternatif juga diperlukan untuk menekan impor BBM yang selama ini menjadi salah satu beban terbesar devisa negara.
Sementara pada sektor industri, penguatan hilirisasi dan peningkatan kapasitas industri nasional dinilai dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku maupun komponen industri.
Pengembangan industri elektronik, baja, petrokimia, hingga mesin produksi domestik juga menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional.