Pertanyaan tersebut menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian karena disampaikan sekitar satu bulan sebelum Yaroch ditangkap.
Jejak percakapan itu memunculkan dugaan bahwa Yaroch telah mempertimbangkan kemungkinan meninggalkan Amerika Serikat ketika penyelidikan terhadap tindakannya mulai berkembang.
Baca Juga:
FBI Turun Tangan: Sindikat Love Scamming Rp41,1 Miliar di Solo Raya Ternyata Bidik Ratusan Warga AS
Kasus tersebut juga membuat FBI menegaskan kembali standar etik yang diberlakukan terhadap seluruh personelnya.
"FBI memegang teguh standar etika tertinggi bagi seluruh karyawannya," demikian pernyataan juru bicara FBI menanggapi perkara tersebut.
Pihak berwenang juga memastikan penyelidikan terhadap dugaan penyalahgunaan akses internal tersebut dilakukan secara menyeluruh.
Baca Juga:
Trump Ada di Lokasi, Penembakan Dekat Gedung Putih Bikin Panik Washington
Kasus Yaroch bukan menjadi satu-satunya perkara yang menyeret orang dalam pemerintahan Amerika Serikat terkait dugaan pencurian aset kripto.
Pada Maret 2026, seorang kontraktor pemerintah Amerika Serikat bernama John Daghita ditangkap oleh otoritas Amerika Serikat dan Prancis di Pulau Saint Martin.
Daghita didakwa mencuri aset kripto senilai lebih dari 46 juta dolar AS atau sekitar Rp828 miliar dari U.S. Marshals Service.