“China tidak tertinggal dalam AI,” kata Huang dalam wawancara dengan CNN pada 2025.
Menurut Huang, China memiliki kekuatan besar karena didukung banyak peneliti, pengembang perangkat lunak, serta ekosistem teknologi yang terus berkembang.
Baca Juga:
Airlangga Tandatangani Perjanjian Pendirian WAICO, RI Masuk Organisasi AI Dunia
“Mereka sangat, sangat dekat,” ujar Huang ketika menggambarkan jarak kemampuan AI China dengan Amerika Serikat.
Peringatan tersebut menjadi relevan ketika Beijing kini mulai mempertimbangkan untuk melindungi teknologi yang berhasil dikembangkan perusahaan domestiknya dari akses pihak asing.
Rencana pembatasan itu juga menunjukkan perubahan posisi China yang sebelumnya lebih banyak menjadi pihak yang menghadapi kontrol ekspor teknologi dari Amerika Serikat.
Baca Juga:
Tak Hanya Banjir, China Kini Diteror 900 Ular Berbisa yang Lepas dari Peternakan
Washington selama bertahun-tahun menggunakan kontrol ekspor untuk membatasi kemampuan perusahaan China memperoleh semikonduktor mutakhir, perangkat manufaktur chip, dan teknologi yang dinilai strategis.
Kini Beijing mulai mempertimbangkan instrumen serupa untuk mempertahankan teknologi yang dianggap penting bagi daya saing dan keamanan strategis China.
Langkah-langkah tersebut berpotensi dimasukkan dalam revisi berikutnya terhadap daftar teknologi China yang dilarang atau dibatasi untuk diekspor.