Menurut Zuckerberg, perusahaan Amerika seharusnya mencari dan memperbaiki berbagai hambatan yang menyebabkan mereka kesulitan bersaing dengan pengembang AI China.
“Saya pikir kita perlu secara sistematis mengidentifikasi hambatan-hambatan yang membuat perusahaan Amerika kurang kompetitif,” ujar Zuckerberg.
Baca Juga:
Airlangga Tandatangani Perjanjian Pendirian WAICO, RI Masuk Organisasi AI Dunia
Perkembangan tersebut menunjukkan persaingan teknologi AS-China semakin bergerak dari strategi membatasi lawan menuju perlombaan membangun kemampuan teknologi domestik.
Di tengah kondisi itu, Beijing kini mempertimbangkan strategi baru untuk menjaga teknologi AI paling canggih yang dikembangkan perusahaan domestiknya agar tidak mudah diakses pihak luar.
Pemerintah China juga mempertimbangkan pengetatan aturan ekspor teknologi kecerdasan buatan dan semikonduktor sebagai bagian dari upaya melindungi teknologi strategis nasional.
Baca Juga:
Tak Hanya Banjir, China Kini Diteror 900 Ular Berbisa yang Lepas dari Peternakan
Financial Times dalam laporan yang dikutip Reuters menyebut arah kebijakan tersebut mencerminkan keinginan Beijing mempertahankan teknologi AI domestik paling maju tetap berada di dalam negeri.
China mulai memandang teknologi kecerdasan buatan tercanggih sebagai aset strategis nasional yang perlu dikendalikan sebagaimana pendekatan Amerika Serikat terhadap teknologi sensitifnya.
Sebelumnya, Reuters melaporkan otoritas China telah mengadakan pertemuan dengan sejumlah perusahaan teknologi besar untuk membahas kemungkinan pembatasan akses pihak asing.