WAHANANEWS.CO, Jakarta - Gelombang pengetatan ruang digital global makin kencang. Layanan pesan instan asing paling populer di dunia, WhatsApp dan Telegram, kini menghadapi pemblokiran total di beberapa negara otoriter dan berkembang akibat alasan politik hingga keamanan domestik.
Langkah agresif pemerintah di masing-masing negara tersebut memicu kepanikan massal di kalangan pengguna. Tak pelak, warga pun ramai-ramai mengunduh aplikasi Virtual Private Network (VPN) demi mencari 'jalur belakang' agar tetap bisa terhubung secara online ke WhatsApp dan Telegram.
Baca Juga:
Riset Bongkar Kebiasaan Baru Konsumen RI, Telat Balas Chat Bisa Kehilangan Pembeli
Pemerintahan Vladimir Putin dilaporkan mengambil langkah ekstrem untuk mengontrol total ekosistem internet di Rusia dengan membatasi akses ke platform milik Meta Platforms, WhatsApp, serta Telegram. Moskow secara agresif mendesak warganya untuk beralih ke aplikasi pesan instan lokal guna memperkuat jargon kedaulatan digital negara.
Namun, alih-alih mematuhi instruksi, warga Rusia justru memilih 'gerilya' menggunakan solusi teknologi yang lebih rumit untuk menghindari pengawasan negara. Sepanjang Maret saja, data koran harian Rusia Kommersant yang dikutip dari Reuters mencatat adanya ledakan unduhan hingga 9,2 juta kali untuk layanan VPN populer di Google Play Store.
Angka unduhan VPN tersebut meroket tajam hingga 14 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga:
Pilih Chat daripada Telepon? Kebiasaan Ini Ternyata Ungkap Cara Anda Berpikir
"Kami belum pernah melihat tingkat penerimaan seperti ini sebelumnya," ujar Sarkis Darbinyan, aktivis kebebasan internet Rusia yang kini berbasis di Lisbon dan telah dicap sebagai "agen asing" oleh Kremlin, dikutip dari Reuters, Rabu (24/6/2026).
Ketegangan ini terjadi di tengah anjloknya tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Putin, dari 75,1% pada Februari menjadi 65,6% pada April menurut lembaga survei negara VTsIOM. Kendati juru bicara Kremlin Dmitry Peskov berkali-kali menegaskan kontrol internet diperlukan karena Rusia tengah terjebak 'bentrokan eksistensial' dengan Barat atas konflik Ukraina, gangguan internet yang berkepanjangan sempat membuat para birokrat senior meradang karena menghambat koordinasi politik.
Tak hanya di Beruang Putih, pengetatan ruang digital juga menjalar ke Asia Selatan. Pemerintah India resmi memberlakukan pemblokiran total sementara terhadap Telegram sejak pertengahan Juni.