WAHANANEWS.CO, Jakarta - NASA menunjuk Relativity Space —perusahaan roket yang diakuisisi mantan CEO Google, Eric Schmidt— untuk membawa misi sains ke Mars. Kalau berhasil sesuai rencana, ini bisa jadi misi swasta pertama yang benar-benar mencapai Planet Merah, mengalahkan SpaceX yang selama ini lebih dulu digadang-gadang akan ke sana.
Relativity Space akan membangun wahana antariksa yang membawa serangkaian instrumen ilmiah, meluncurkannya ke luar angkasa, dan menerbangkannya ke Mars.
Baca Juga:
Pentagon Bongkar Biaya Perang AS di Iran Tembus Rp433,8 Triliun
Misi Bernama Aeolus
Misi ini diberi nama Aeolus, diambil dari nama dewa angin dalam mitologi Yunani. Aeolus akan membawa empat instrumen untuk mengukur dan memotret Mars dari orbit, memberikan apa yang diharapkan NASA sebagai pandangan harian dan global pertama terhadap debu, angin, dan suhu di atmosfer planet tersebut.
Data ini bukan sekadar untuk penelitian akademis. NASA menyebut data tersebut akan membuat pendaratan wahana, dan suatu hari nanti untuk astronaut, agar perjalanan ke permukaan Planet Merah menjadi lebih aman.
Baca Juga:
Asteroid Raksasa Dekati Bumi 2029, Bisa Dilihat Tanpa Teleskop
Administrator NASA, Jared Isaacman, menjelaskan bahwa dengan memadukan instrumen kelas dunia milik NASA dengan inovasi dan investasi dari sektor komersial, badan antariksa ini bisa menghadirkan lebih banyak sains, lebih sering, dan mempersingkat waktu yang dibutuhkan untuk menyampaikan data penting kepada para peneliti yang sedang bersiap untuk misi manusia ke Mars di masa depan.
Skema Kontrak: NASA Sediakan Sains, Swasta Sediakan Infrastruktur
Struktur kontrak ini mirip dengan kesepakatan yang NASA buat dengan SpaceX untuk mengirim kargo ke Stasiun Luar Angkasa Internasional, atau dengan Firefly Aerospace untuk mendaratkan wahana di Bulan. Badan pemerintah menangani sisi sains, sementara perusahaan swasta menyediakan infrastruktur berbiaya rendah.