Misi ini dijadwalkan meluncur pada 2028. Ini jadwal yang sangat ketat, mengingat Relativity harus merancang dan membangun wahana antariksa untuk membawa instrumen Aeolus, sekaligus menyelesaikan pembangunan roket yang akan membawanya ke luar angkasa, semuanya dalam tenggat waktu yang sempit. NASA tidak mengungkap berapa nilai kontrak yang dibayarkan kepada Relativity Space.
Model kerja sama seperti ini bukan tanpa alasan. Isaacman, yang sudah dua kali terbang ke luar angkasa lewat misi swasta SpaceX, memang dikenal sebagai pendukung kemitraan publik-swasta semacam ini. Dalam model tersebut, perusahaan yang bekerja sama dengan NASA menanggung sebagian biaya pengembangan proyek, sebagai gantinya NASA bisa memperluas anggarannya —struktur yang kini menjadi pola standar bagi badan antariksa ini dalam membiayai misi-misi ambisius tanpa harus menanggung seluruh risiko finansial sendiri.
Baca Juga:
Pentagon Bongkar Biaya Perang AS di Iran Tembus Rp433,8 Triliun
Tapi, bukan berarti NASA bebas risiko. Relativity adalah perusahaan yang belum pernah terbukti, dan tidak ada jaminan misi ini akan benar-benar lepas landas. Mitra startup NASA sebelumnya pernah bangkrut atau wahana pendarat Bulan mereka mendarat dalam posisi miring.
Dari Roket 3D-Print yang Gagal, Lalu Diselamatkan Eric Schmidt
Kisah Relativity Space sendiri penuh lika-liku. Perusahaan ini didirikan pada 2015 oleh dua mantan engineer SpaceX dan Blue Origin, dengan gagasan memanfaatkan teknologi pencetakan 3D secara maksimal sebagai jalan untuk membangun roket yang lebih murah.
Baca Juga:
Asteroid Raksasa Dekati Bumi 2029, Bisa Dilihat Tanpa Teleskop
Sayangnya, perjalanan awal mereka tidak mulus. Desain pertama perusahaan, Terran-1, meluncur pada Maret 2023 namun gagal di tengah penerbangan. Relativity kemudian banting setir dengan beralih ke desain yang lebih besar, dinamai Terran R.
Namun, sebelum Terran R sempat mencapai landasan peluncuran, perusahaan ini menghadapi tantangan pendanaan, hingga akhirnya Schmidt mengambil alih saham mayoritas tahun lalu dan menjadikan dirinya sendiri sebagai CEO.
Schmidt sendiri tidak banyak bicara soal alasan investasinya. Ia diketahui tertarik pada data center orbital, dan diduga menggunakan Relativity untuk meluncurkan teleskop antariksa bernama Lazuli, yang dibiayai oleh lembaga filantropi keluarganya, Schmidt Sciences.